Di Mana Sebenarnya Peran Lembaga Mahasiswa?

Hidup sebagai orang Indonesia di hari ini mungkin adalah hidup yang menggemaskan, mengapa? Karena di tengah segala kekacauan. Ketertinggalan, dan kemiskinan di negeri ini, kita sebenarnya merasa bahwa bagnsa ini sesungguhnya punya modal besar untuk maju dan berkembang jauh melebihi bangsa lain. Mengutip kata-kata Jusuf Kalla saat talkshow di Baruga Pettarani beberapa waktu lalu, “kita kadang-kadang gemas juga melihat bangsa ini. Mengapa? Karena kita melihat bangsa ini tidak maju-maju, padhal kita tahu bangsa ini bisa jauh lebih maju!”. Ya, apa yang tak dimiliki Indonesia kita ini? Tenaga kerja dalam jumlah besar, sumber daya alam melimpah, posisi strategis dalam percaturan geopoliik dunia. Lalu? Ketika pembahasan sudah sampai di tiik ini, maka ujung-ujungnya kita akan sampai di satu kesimpulan, bahwa bangsa ini kurang pemimpin. Di beberapa kali forum seminar, forum diskusi, forum kuliah, ketika membahas apa yang kurang dari bangsa ini untuk mampu memberdayakan semua potensi yang dmiliki, semua akan sampai pada satu kesimpulan, bahwa bangsa ini butuh pemimpin (bukan hanya pemimpin politik, namun juga pemimpin di segala bidang kehidupan) yang mampu mengarahkan gerak bangsa ini. Kita merindukan sosok Dahlan Iskan sebagai pemimpin BUMN, yang mampu menerobos kebuntuan dan mis-efisiensi perusahaan-perusahaan negara, kita butuh sosok Djoko Widodo yang di tubuh pemerintahan unuk menerobos kekakuan dan keangkuhan prosedur birokrasi kita, kita butuh ketegasan dan kecerdasan sosok Mahfud MD untuk menyelesaikan sengketa-sengketa produk hokum di negeri ini, kita butuh sosok Anies Baswedan untuk memulai kepeloporan di dunia pendidikan. Di bidang kehidupan lainnya, di bidang industry, perdagangan, pelayanan kesehatan, kepolisian, dan berbagai bidang kehidupan lainnya, kita burtuh sosok itu, tak hanya untuk mengarahkan kita dan menemukan jalan keluar dari problemaatika bangsa ini yang begitu sistemik, tapi lebih dari itu model kepemimpinan seperti mereka dibutuhkansebagai role model bagi jutaan anak bangsa yang selama bertahun-tahun hilang kepercayaan terhdapa pemimpin bangsanya. Problem besarnya adalah, bahwa (kita semua sudah tahu) tak ada pemimpin yang lahir begitu saja. Seorang pemimpin di abad 21 ini,tak akan pernah muncul tiba-tiba seperti munculnya tomanurung dalam tradisi kepercayaan orang bugis. Pemimpin mestilah lahir dari proses panjang yang tentu saja melelahkan, mungkin mirip proses pembentukan Gatot Kaca di kawah candradimuka, seperti dalam legenda pewayangan. Di Abad 21, kawah candradimuka, loyang bagi pembentukan pemimpin masa depan ini, tentu saja harus dipersiapkan. Karakter seorang Dahlan Iskan, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Baharuddin Lopa (alm), dan teladan-teladan bangsa kita yang lain, terbentuk dari pergulatan panjang yang akhirnya membentuk cara berpikir, mental model, visi, dan kekuatan kepemimpinan mereka. Nah, di sinilah lembaga mahasiswa harusnya bisa mengambil peran. Di tengah system pendidikan kita yang semakin kering dan acuh terhadap pembentukan mahasiswa yang seutuhya, lembaga mahasiswa harusnya mampu menjadi kawah candra di muka bagi pembentukan pemimpin masa depan. Pemimpin masa depan Indonesia adalah pemimpin yang lahir dari proses panjang yang harusnya dimulai sejak muda. Di titik inilah, lembaga mahasiswa menjadi urgen dan punya peran strategis. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan harusnya mampu menjadi wadah pembentukan karakter mahasiswa (character building), menjadi ajang melatih kapasitas kepemimpinan (capacity of leadership building), sekaligus wadah membangun jejaring dan relasi (connection building). Kata kunci 3 C (character-capacity of leadership-connections) inilah yang kelak akan membentuk pemimpin unggul masa depan. Masalahnya adalah masih banyak lembaga mahasiswa yang missed-vision, kehilangan kemampuan untuk melihat jauh ke masa depan. Gejala missed-vision ini terlihat dari kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang kadang-kadang terjebak dalam romantisme dan ritual masa lalu yang kehilangan ruh, terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang meminggirkan akal sehat, budaya bernalar dan pembangunan karakter. Coba kita pikir-pikir, setiap tahun, begitu banyak kegiatan mahasiswa yang diselenggarakan, namun banyaknya jumlah kegiatan kemahasiswaan itu tak berbanding lurus dengan kapasitas manusia. Setiap tahun, tawuran tetap marak, jumlah lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran tetap tinggi. Tanpa bermaksud men-simplifikasi masalah, factor utama rendahnya kualitas mahasiswa kita salah satunya adalah kegiatan kemahasiswaan yang tak berorientasi pada pembangunan manusia. Mestinya kegiatan-kegiatan kemahasiswaan adalah kegiatan yang membangun kapasitas manusia; bukannya malah melihat manusia tak lebih dari mesin-mesin pekerja organisasi. Sungguh aneh, masih banyak organisasi mahasiswa yang menganggap kegiatan kemahasiswaan adalah untuk membesarkan organisasi mahasiswa, padahal harusnya kegiatan-kegiatan kemahasiswaan adalah untuk membesarkan “manusia”nya. Yang lebih aneh lagi, masih banyak pengelola institusi pendidikan tinggi yang menganggap kegiatan kemahasiswaan hanya sekedar untuk mengisi waktu luang mahasiswa. pengelola institusi semacam ini sibuk mengejar akreditasi institusi, sibuk mengejar kuantitas lulusan, atau malah sibuk mengejar kuantitas penerimaan dana institusi, namun abai pada pembangunan 3-C mahasiswanya. Pengelolaan kemahasiswaan semacam ini mengingatkan kita pada pengelolaan pembangunan ala orde baru, sebuah model pembangunan yang mengejar pertumbuhan fisik, model pembangunan yang mengejar indicator-indikator makro, namun lupa pada pembangunan kualitas sumber daya manusia, juga lupa pada pembangunan budaya dan karakter bangsa. Pada akhirnya, pembangunan dengan model semacam itu, menumbuh kembangkan budaya korupsi, mematikan daya saing, dan merapuhkan ketahanan bangsa. Gejala-gejala budaya korupsi, tidak berdaya saing, dan rapuh-nilai itu terlihat pula dalam kualitas mahasiswa kita. Terakhir, kita mungkin perlu ingat perkiraan para ahli. Dua puluh tahun yang akan datang diperkirakan akan menjadi puncak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dua puluh tahun lagi, Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang paling tinggi. di tahun-utahun ini, Indonesia juga diperkirakan akan memiliki jumlah penduduk kelas menengah paling tinggi .Di tahun-tahun ini, angka konsumsi penduduk yang menunjang pertumbuhan ekonomi akan mencapai tingkat paling tinggi,. Di tahun-tahun inilah, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju, karena setelahnya Indonesia diperkirakan akan mengalami beban kependudukan yang berat; penduduk usia tua yang non produktif meningkat, kelas menengah menurun (hal yang sekarang dialami Jepang). Nah, jika generasi yang akan memegang peran strategis di tahun-tahun emas ini, tak dipersiapkan dengan baik, mungkin kita akan ketinggalan momentum dan tak berajak dari kondisi memprihatinkan seperti sekarng ini.
baca tulisan ini lebih jauh

Agama, Kekerasan, dan Keangkuhan Manusia

Beberapa hari ini, berita kericuhan di Sampang, Madura menghiasi hampir seluruh media di tanah air. Apa sebenarnya yang terjadi di sana? Dari televisi dan surat kabar, kita semua menyaksikan gambar yang sama. Kita semua mendapat berita yang sama. Dua orang meninggal, belasan orang luka-luka, puluhan rumah dibakar, dan ratusan orang mengungsi dalam ketakutan. Dan (saya berharap) kita semua juga merasakan kengerian dan rasa teriris yang sama saat menyaksikan gambar-gambar tersebut. Gambar anak-anak yang menangis ketakutan, ibu-ibu yang kehilangan keluarga dan rumahnya. Oleh Tuhan, kita dianugerahi perasaan yang sama, perasaan yang tak pernah setuju terhadap segala hal yang bernama pembunuhan, pada segala hal yang bernama penghilangan dan pengrusakan hak orang lain. Namun anehnya, kita sungguh-sungguh akan berbeda sikap saat mendengar bahwa konflik yang terjadi di Sampang itu adalah konflik yang disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam agama. Tiba-tiba saja, semua perasaan terluka, semua perasaan teriris saat menyaksikan korban dari tragedi Sampang itu, lenyap saat kita tahu bahwa kekerasan yang terjadi di sana itu adalah atas nama membela agama dan Tuhan. Ya, semua rasa kemanusiaan kita, bahkan semua akal sehat kita sebagai manusia, harus kita pinggirkan atas nama agama dan iman. Namun benarkah, apa yang dilakukan oleh sekelompok orang di Sampang sana itu adalah atas nama Tuhan ? atas nama Islam? Atas nama iman? Entahlah, saya tak punya cukup keberanian untuk mengklaim bahwa apa yang dilakukan orang-orang tersebut tidak mewakili islam dan Tuhan, tapi yang pasti tindakan-tindakan biadab itu tak pernah mewakili saya sebagai seorang umat islam. Orang-orang yang mengacung-acungkan clurit dengan penuh amarah, orang-orang yang membakar rumah orang-orang yang tak berdaya, orang-orang yang membiarkan seorang perempuan menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim tanpa haq, saya tak melihat wajah islam (yang saya percaya) di sana, dan tindakan-tindakan itu tak akan pernah mewakili perasaan saya sebagai seorang islam. Karena itu, saya tak pernah setuju kalau konflik di sana itu selalu “ditampilkan” sebagai konflik islam. Saya agak gerah, jika konflik itu disebut sebagai konflik antara syiah dan sunni, karena sebagai seorang pengikut sunnah nabi (ahlusunnah) saya tak pernah setuju dengan semua kekerasan itu. Mungkin perasaan saya, sama dengan perasaan rakyat Amerika, saat mereka menyaksikan pasukan-pasukan Bush membunuhi orang-orang di Irak dan Afganistan. Ya, tak semua rakyat Amerika sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Bush, dan karena itu Bush sungguh tak pernah mewakili Amerika. Seperti Hitler tak pernah mewakili perasaan seluruh rakyat Jerman, Stalin tak pernah mewakili perasaan seluruh rakyat Rusia, dan Hideki Tojo tak pernah mewakili perasaan seluruh rakyat jepang. Lalu, jika tak mewakili islam, tindakan-tindakan kekerasan itu mewakili apa? Entahlah, saya tak tahu. Yang saya tahu, saat Bush memerangi rakyat Iraq dan Afganistan, ada rasa keangkuhan di sana. Ya, sebuah kesombongan untuk menunjukkan pada dunia, bahwa inilah kami bangsa Amerika, bangsa yang berhak menjadi polisi dan hakim di dunia. Saat Hitler mengumumkan perang kepada seluruh Eropa, ada keangkuhan di sana, bahwa inilah kami bangsa arya, ras unggul yang diberi hak oleh Tuhan untuk memimpin dunia, ketika Tojo memutuskan memulai perang di Asia-Pasifik, juga ada keangkuhan di sana, bahwa inilah kami bangsa Nippon, bangsa yang diberi kepercayaan oleh dewa untuk memimpin Asia.
Anda boleh memberikan komentar apa saja atas apa yang saya tulis ini. Yang pasti, itulah yang saya rasakan, itulah yang saya lihat. bahwa dari semua kekerasan yang pernah saya lihat (apapun latar belakangnya), selalu ada keangkuhan di sana. Agama, Ras, Negara, iman, bahkan Tuhan, mungkin hanyalah “term-term” yang sering kita jadikan “alasan pembenaran” untuk mempertontonkan kehebatan kita. Mungkin itu jugalah yang saat ini sedang dipertontonkan rezim militer di Myanmar atas orang-orang Rohingya, mungkin itu jugalah yang saat ini sedang dipertontonkan oleh rezim Bashar Al-assad di Suriah atas rakyatnya.
baca tulisan ini lebih jauh

Neil Amstrong, Apollo, dan Modernitas

Beberapa hari yang lalu, dunia (atau mungkin sebagian besar dunia barat) berkabung. salah satu manusia yang paling sering disebut namanya dalam catatan sejarah manusia modern, meninggal. Neil Amstrong, manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan, meninggal di usia 82 tahun akibat komplikasi kanker yang dideritanya. Dunia mengenang Neil Amstrong sebagai pemimpin misi Apollo 11, misi ambisius ruang angkasa Amerika Serikat, untuk menjadi bangsa yang pertama kali menjejakkan langkah di bulan. Melalui gambar hitam putih berbintik-bintik yang disiarkan ke jutaan saluran televisi dan radio di seluruh dunia, Amerika Serikat mengirimkan pesan, Inilah kami, bangsa yang telah menaklukkan bulan. Lihatlah bendera bangsa siapa yang berkibar di sana. Misi Apollo, sebuah megaproyek penjelajahan luar angkasa Amerika serikat di era perang dingin, mungkin akan dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa bagi manusia. Di tengah-tengah perlombaan senjata, persaingan berebut pengaruh dan paham, persaingan merebut ladang minyak dan daerah kekuasaan, dua Negara adidaya di era 40-an, Rusia dan Amerika Serikat berebut pengaruh melalui pencapaian menembus luar angkasa. Amerika Serikat melalui misi Apollo dan Rusia melalui misi Sputnik. Dan dalam persaingan itu, Amerika Serikat mungkin keluar sebagai pemenang. Jauh sebelum Francis Fukuyama menulis The End of History, Amerika Serikat telah menahbiskan diri sebagai bangsa yang menaklukkan bulan pertama kali. Apa yang telah dicapai oleh misi Apollo Amerika Serikat, terlepas dari sumbangsih yang telah diberikannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan manusia, mungkin adalah gambaran sempurna dari apa yang kita sebut sebagai modernitas. Perpaduan dari rasa tak pernah puas manusia, pemanfaatan ilmu pengetahuan seluas-luasnya, lalu diwarnai persaingan yang tak kenal ampun dan sikap cuek yang kental terhadap dunia sekitar. Modernitas mungkin adalah buah simalakama bagi sejarah dan masa depan umat manusia. Sepanjang sejarah, modernitas telah terbukti berperan penting dalam perkembangan pengetahuan, perkembangan ekonomi, dan perkembangan kebudayaan manusia. Modernitas lah yang membawa Christophorus Columbus menemukan benua baru yang penuh harapan (Amerika), modernitas lah yang membawa Eropa ke masa revolusi industri, sebuah perubahan radikal bagi cara hidup kita hingga hari ini, modernitas lah yang menjadikan kita bisa mengerjakan tugas kuliah di laptop, sambil menelefon teman kita yang di surabaya, sambil menonton pertandingan sepakbola langsung dari London, di waktu yang bersamaan. Kita mungkin tak mampu membayangkan bagaimana cara kita menjalani hidup tanpa modernitas. Tapi di sisi lain, modernitas juga menciptakan kesenjangan, menciptakan manusia-manusia serakah yang menjelma menjadi monster, menciptakan orang-orang yang kalah dan tersingkir, menciptakan kerusakan dan degradasi kualitas bumi. Maka benarlah, saat Neil Amstrong mengatakan “ini mungkin sebuah langkah kecil bagi manusia, tapi sebuah lompatan raksasa bagi kemanusiaan”. Kita telah jauh melangkah. Kita telah memasuki sebuah dunia baru yang tak sepenuhnya kita mengerti. Kita telah memasuki dunia baru yang tak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Di satu sisi, dunia kita yang disesaki teknologi itu banyak membantu kita, tapi di sisi lain, kita sadar (atau mungkin juga belum), bahwa banyak hal dari kehidupan kita yang telah digerus oleh teknologi.
Hari ini, Amerika Serikat telah menghentikan misi Apollo dan eksplorasi bulannya. Amerika serikat akan memfokuskan misi luar angkasanya pada misi “menemukan tanda-tanda kehidupan” di planet mars. Semoga kita tak sedang sibuk mencari kehidupan lain di luar sana, namun melupakan sebuah “kehidupan” yang kita jalani saat ini. Di sini. Hari ini.
baca tulisan ini lebih jauh

akhirnya....

assalamu alaikum.. Akhirnya. setelah sekian lama blog ini menganggur, akhirnya, saya punya kesempatan untuk menulis di blog ini lagi. Bukan sibuk, bukan tak pernah online, juga bukan karena lagi tak ada inspirasi. Mungkin cuma butuh istirahat sejenak dari lalu-lintas per-blog-an. dan setelah beberapa lama vakum di blog ini, akhirnya banyak juga teman-teman yang protes. (saya harus mengucapkan terima kasih kepada mereka semua, teman-teman saya yang protes mengapa blog ini tak pernah diisi lagi, karena dengan komplen mereka itu, saya akhirnya sadar, ada juga yang rindu pada blog ini) yahh.. terima kasih teman-teman, setidaknya telah membuat saya merasa demikian. di postingan pertama setelah hibernasi panjang ini, cuma mau bilang "selamat idulfitri 1433 H. mohon maaf lahir batin. mohon maaf atas semua postingan yang tak berkenan"
baca tulisan ini lebih jauh

curhat koass

beberapa hari ini, saya sedang mengalami kesuntukan yang sangat luar biasa. bukan, ini bukan sakit, entah apa, beberapa teman bilang, mungkin saya hanya sedang lelah, capek. lelah karena apa? saya tak melakukan banyak hal-hal penting akhir-akhir ini. capek karena terlalu sibuk coass katanya. hmm... benarkah?
sudah hampir delapan bulan ini saya menjalani kehidupan per-coass-an. sudah menyelesaikan lima dari empat belas bagian yang harus kami selesaikan untuk menyelesaikan gelar dokter. dan sejauh ini, memang kehidupan saya banyak tersita di rutinitas yang satu ini. tidak. saya bukan tipe mahasiswa rajin. sama sekali bukan. bukan juga tipe mahasiswa bureng*.
kehidupan per-coass-an memang kehidupan yang sangat menyibukkan. atau jangan-jangan sayanya yang selama ini terlalu terbiasa bermalas-malasan sehingga ketika begitu masuk ke dunia coass yang menuntut waktu dan perhatian lebih banyak, saya tak mampu menyesuaikan diri. entahlah, agar kita sama-sama bisa menilai lebih fair, saya deskripsikan kegiatan saya selama beberapa bulan terakhir selama saya coass. setiap hari dari hari senin sampai sabtu, saya harus masuk rumah sakit jam 7.30 pagi, di beberapa bagian malah harus datang sebelum jam 7. selesai dinas jam dua, biasanya harus lanjut jaga (siang atau malam, atau dua-duanya). pulang ke rumah pasti capek, langsung tidur. selain dinas, dan jaga, masih ada tugas bikin referat, diskusi status. jikapun ada waktu luang di antara semua kesibukan-kesibukan itu, waktunya diapakai untuk belajar (anda harus belajar, karena ujian tak bhisa nyontek lagi seperti waktu zaman kuliah). anda bisa bayangkan kan, bagaimana sibuknya...
dan tiba-tiba di tengah-tengah kekalutan pikiran saya, tiba-tiba sy menemukan postingan saya beberapa waktu lalu, http://fadlanous.blogspot.com/2010/11/kesibukan-profesi-merampas-semua-waktu.html ...
sialan. sepertinya saya harus liburan. setidaknya satu minggu ini..
baca tulisan ini lebih jauh

Behind That Hazel Eyes

apakah semua genggaman melahirkan hujan?
aku bertanya karena setiap kali
kita berpegangan dan menautkan tangan,
matamu tiba-tiba berubah jadi pelangi

perjalanan telah membawaku begitu jauh
ada begitu banyak negeri untuk berlabuh
namun entah mengapa aku tak pernah jenuh
ingin tinggal di matamu

karena inilah aku tak percaya pada sekolah
kita selalu diajari bagimana memetik bintang
tapi guru tak pernah cerita bagaimana cara
mengeluarkan aku dari matamu
baca tulisan ini lebih jauh

jalan panjang menuju rumahmu

I. Sejak kecil, kita diajar
melipat dan melipit kertas
lalu memendekkan jarak-jarak
dalam skala-skala peta
(andai saja kita bisa melipat ruang,
agar rumahku dan rumahmu tak berpisah jarak)


II.Sejak awal Tuhan menciptakan
kita terjebak dalam ruang -ruang
hingga antara rumahmu dan rumahku
tersimpan jarak yang begitu rentang
(kelak akhirnya kita tahu
bahwa Tuhan menciptakan jarak
agar kita percaya pada kata rindu)


III.dan mengantarmu pulang
adalah pekerjaan rumit yang paling kurindukan
karena jalan panjang menuju rumahmu
adalah jalan dipenuhi kelok dan liku
di sepanjang jalan aku berdoa
semoga jalan menuju rumahmu
tak serumit jalan menuju hatimu
baca tulisan ini lebih jauh

berhentilah mengeluhkan kemacetan

Beberapa hari yang lalu, ketika peringatan hari anti korupsi sedunia, Makassar dilanda macet total. saya sedang berada dalam perjalanan pulang kerumah sore itu, saat saya terjebak macet di daerah jl.perintis kemerdekaan. Makassar macet total, kendaraan tak bisa bergerak sama sekali dan saya terjebak di tengah-tengah. Sama sekali tak ada jalan alternative yang bisa digunakan untuk meloloskan diri dari tumpukan kendaraan. Sembari menunggui arus kendaraan bergerak kembali, saya mencoba-coba membuka Fesbuk dan twitter lewat Handphone. Dari facebook dan twitter lah, saya tahu kalau kemacetan ini terjadi hampir di seluruh kota, dan terjadi akibat demonstrasi mahasiswa memperingati hari anti korupsi. Beberapa teman-teman dengan nada kasar menghujat demonstrasi mahasiswa yang menjadi penyebab kemacetan ini.

Namun di tulisan ini, saya tak hendak membahas kemacetan dan demonstrasi itu. Ikut-ikutan mengomentari demonstrasi dan kemacetan itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah hanya menghabiskan energy saja. Saya bukannya tak mau sok suci dengan pura-pura tak mengeluh saat terjebak kemacetan di tengah-tengah perjalanan pulang dari kampus yang melelahkan. Namun, daripada terjebak dalam hujatan-hujatan dan keluhan yang sangat tak konstruktif, saya lebih memilih menepikan kendaraan, mematikan mesin, memasang headset, menyetel musik dan mencoba menikmati kemacetan.
Mencoba memahami kemacetan dalam sudut pandang seperti ini memang susah. Tapi saya mencoba melihatnya seperti ini; Kita begitu marah saat terjbak di tengah kemacetan, karena macet telah menghisap waktu-waktu produktif kita. Bagi kita yang hidup di kota-kota besar, dengan tingkat kesibukan dan mobilitas yang begitu tinggi, kehilangan waktu lima menit saja bisa membuat kita begitu marah dan uring-uringan.

Di sela-sela kemacetan itu, saya menyadari beberapa hal. Saya menyadari betapa kehidupan kita setiap hari bergerak begitu cepat. Cobalahkita tengok kehidupan kita tiap hari. Bagi seorang mahasiswa kedokteran (saya kebetulan mahasiswa kedokteran), kita berangkat ke kampus tiap hari jam tujuh pagi, lalu mengikuti kuliah sampai sore, pulang kuliah kita harus mengerjakan berbagai laporan praktikum, tugas-tugas mata kuliah, mengulangi pelajaran, plus mempersiapkan mata kuliah keesokan harinya. Bagi mahasiswa koass jauh lebih sibuk lagi. Bagi mahasiswa di jurusan lain, entahlah sesibuk apa, tapi rasa-rasanya, kesibukannya tak akan jauh berbeda. Bagi yang sudah bekerja, kesibukan pastinya jauh ebh berat lagi. Saya beberapa kali memperhatikan siklus kehidupan harian beberapa senior-senior dan dosen saya dikampus. Dan kehidupannya, rata-rata tidak jauh berbeda satu sama lain, sama-sama sibuk. Berangkat ke Rumah Sakit jam tujuh pagi, pulang sore, lanjut ke klinik hingga jam sepuluh malam. Dan itu berlangsung setiap hari!

Saya kadang-kadang berpikir apakah teman-teman sejawat (atau calon sejawat) lain ini tak pernah jenuh dengan kehidupannnya? Kehidupan kita selama ini (apapun itu, baik kehidupan sekolah, kuliah, kerja, dsb) tiap hari berjalan dalam tempo yang begitu cepat (perhatikan betapa tiap hari kita selalu merasa diburu-buru waktu), begitu penuh (cobalah menghitung waktu istirahat kita tiap hari) dan begitu determinisnya (kita bahkan tak pernah memikirkan betapa ketatnya jadwal siklus hidup kita). Dan kita semua melewati hari-hari yang super sibuk ini tanpa pernah bertanya, seakan-akan memang seperti itulah harusnya kita mengisi hidup.

Memang menjalani hari-hari yang penuh kesibukan itu merupakan suatu hal yang positif, setidaknya bagi masyarakat modern. Data menunjukkan, bahwa semakin maju masyarkat, tingkatkesibukan masyaraktnya makin tinggi, dan rata-rata waktu senggang yang dimiliki penduduknya makin rendah. Namun, kecepatan laju kesibukan kita dalam beberapa hal menimbulkan efek negatif. Data menunjukkan, kesibukan profesi berpengaruh terhadap tingginya tingkat stress, dan kerentanan terhadap tekanan emosional, dan penurunan kekebalan terhadap penyakit bagi masyarakat yang hidup di kota besar.

Di sisi lain, tanpa kita sadari, rutinitas siklus hidup yang begitu cepat dan berulang-ulang tiap hari ini juga menyebabkan kita menjadi robot. Ya, menjadi robot. Bayangkan saja, kita melakukan hal yang sama dan berulang-ulang tiap hari,tanpa jeda, tanpa istrahat dan dalam kecepatan tinggi. Lama-kelamaan rutinitas itu kita lakukan bukan atas dasar kesadaran kita, melainkan karena memang sudah kebiasaan. Akibatnya adalah kita kehilangan kepekaan dan kehilangan kesadaran terhadap apa yang sedang kita lakukan. Kita tak ubahnya robot yang telah diprogram untuk melakukan sesuatu. Bedanya adalah kita bernafas, robot tidak.

Memang agak susah untuk bisa melepaskan diri dari belenggu rutinitas dan kecepatan hidup harian kita. Rutinitas dan belenggu kecepatan hidup ini disetting sedemikian rupa dalam bentuk jadwal kuliah yang padat, tugas kuliah, praktikum, jadwal kerja, kepentingan klien, kepentingan bisnis, dan sebagainya. Dan kita menerima itu semua tanpa pernah menggugat. Kita dirobotisasi sedemikian rupa, dan kita menerimanya begitu saja. Untuk itulah mungkin, di sela-sela kehidupan kita yang super-sibuk itu, kita kadang-kadang butuh kemacetan. Jadi, berhenti menggerutu dan selamat menikmati kemacetan…
baca tulisan ini lebih jauh

Wikileaks dan tatanan dunia baru

tragedi penyerangan menara kembar WTC dan gedung Penthagon pada tanggal 11 september, 9 tahun silam menandai dimulainya tatanan baru dalam dunia politik internasional. Pasca berakhirnya perang dingin di awal tahun 90-an, tragdi 911 praktis menjadi babak baru bagi tatanan dunia internasional. Akibat dari serangan ini, Amerika di bawah komando bush jr. berdiri di hadapan internasional mengumandangkan perang terhadap terorisme yang praktis membagi dunia ini menjadi poros amerika dan poros teroisme (versi amerika). sederhananya "jika anda bukan bagian dari kami, maka anda adalah bagian dari terorisme yang harus diberangus". maka dimulailah perang membasmi terorisme versi amerika di sentero bumi, mulai dari afganistan, irak, dan mungkin sebentar lagi iran, atau korut.

Namun, tiba-tiba beberapa hari belakangan ini, dunia internasional dikejutkan dengan bocornya informasi super-rahasia milik pemerintah AS di situs wikileaks. Ratusan ribu dokumen rahasia yang sebagian besar di antaranya merupakan bocoran lalu lintas kawat diplomatik dari kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan AS di washington kepada seluruh konsulatnya di luar negeri dan sebaliknya ini benar-benar menggemparkan dunia.

Beberapa pengamat internasional menganggap bocornya informasi ini merupakan sebuah bencana paling besar di bidang informasi. Efeknya bahkan bisa mengalahkan efek dari serangan WTC karena sebagaian besar informasi yang dipublikasikana oleh wikileaks merupakan informasi yang sangat rahasia.

Efek ang paling terasa secara langsung akibat dari bocornya kawat diplomatik ini adalah perubahan dalam pola diplomasi negara-negara dunia terkait dengan AS. Berbagai dokumen yang dibocorkan menggambarkan bagaimna persepsi dan rencana rahasia AS terhadap negara-negara di dunia beserta pemimpinnya. dalam beberapa surat rahasia itu, presiden afganistan digambarkan sebagai seorang paranoid yang terlalu lemah, kanselir Jerman, Angela Merkel digambarkan dalam istilah 'kanselir teflon", presiden prancis nicola Sarcozy digambarkan sebagai "pejabat tanpa busana", serta berbagai sentimen negatif dan kecurigaan lainnya terhadap pemimpin-pemimpin dunia.

Laporan-laporan ini tidak hanya mebuktikan kecurigaan dan sentimen negatif AS terhadap negara-negara lain di dunia, namun juga memberikan gambaran ketakutan AS akan kekuatan-kekuatan lain. tentu saja, di tengah buruknya diplomasi AS selama ini, baik dalam menyelesaikan sengketa Timur Tengah, memburuknya keamanan di irak dan Afganistan, krisis Korea, resistensi terhadap Amerika yang semakin meluas di Amerika Selatan, serta kekacauan politik di sebagian besar afrika, bocornya informasi ini akan semakin memperlemah posisi Amerika di dunia internasional. Bahkan tak mungkin loyalis-loyalis amerika yang selama ini patuh terhadap perintah washington, akan berbalik arah, atau setidaknya negara-negara yang selama ini memperlihatkan sikap netral dalam urusan-urusan Amerika akan semakin berani angkat bicara.

Efek jangka panjang yang akan dirasakan adalah keguncangan ekonomi. Sentimen negatif terhadap amerika, ketidak pastian kebijakan luar negeri pasca bocornya informasi rahasia ini, serta keguncangan dan kepanikan pelaku ekonomi skala internasional, bisa saja mempengaruhi pasar saham internasional. atau setidaknya sentimen positif yang berusaha dibangu oleh Amerika pasca krisis ekonomi yang melanda mereka dua tahun silam harus menemui jalan terjal. Bagaimanapun semakin sulit menemukan kepercayaan terhdapa Amerika pasca bocornya informasi.

Di tengah kegemparan dunia akibat bocornya informasi ini, orang mulai bertanya-tanya, bagaiman konstalasi dan peta kekuatan politik internasional pasca bocornya informasi ini. melihat respon negara-negara lain sesaat setelah bocornya informasi ini. Sebagian besar negara-negara yang terkait dan disebutkan dalam dokumen-dokumen itu memilih bersikap (kelihatan) tenang. Yang sibuk justru kemnetrian luar negeri dan kedubes AS yang sibuk memperbaiki hubungan dan menjelaskan perihal isi dokumen itu ke pemimpin negara-negara lain yang disebutkan. Iran, china, dan Rusia,(serta Korut jika kita masih menganggapnya punya cukup kekuatan) yang selama ini dianggap bisa menandingi AS secara baik dalam kekuatan militer maupun ekonomi dan belakangan terlihat aktif menjalin kerjasama dan membangun "sekutu bayangan" di regional, sedikit banyaknya akan diuntungkan dengan kondisi seperti ini. Setidaknya, menurunnya kepercayaan berbagai negara di AS, akan membuat poros kekuatan dunia akan berpaling ke mereka.
baca tulisan ini lebih jauh

Jika Tuhan saja menginginkan kita berbeda, mengapa kita mau memaksakan penyeragaman?

Beberapahari yang lalu saya membaca tulisan seseorang (yang kebetulan seorang senior saya, di FK) di halaman fesbuknya. Tulisan itu berkisah tentang kerinduan si penulis yang telah bertahun-tahun belajar dan bekerja di luar negeri (waktu itu lagi hari ray lebaran, jadi si senior ini mungkin lagi homesick berat sama kampong halamannya). Si penulis menceritakan tntang kerinduan akan tradisi dan ritual-ritual yang dulu selalu dilakukan si penulis semasa di kampung halaman. Tak lupa pula ia mengomentari perbedaan shalat idul adha yang memang hanya terjadi di Indonesia. Bagi si penulis, perbedaan dalam pelaksanaan shlat idul adha, sejauh ini tak perlulah didramatisir sedemikian rupa. Toh, perbedaan dalam beragama memang hal yang fitrawi.

Lumayan banyak teman-teman yang memberikan komentarnya untuk tulisan itu. Komennya pun beraneka ragam,tapi sebagian besar komentar yang muncul terait dengan isu perbedaan pandangan dalam beragama.

Ada sebuah kutipan yang menurut saya menarik daribeberapa komentar tersebut. Seorang teman penulis berkomentar bahwa perbedaan pandangan merupakan sebuah kemestian. Baginya perbedaan merupakan fitrah kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan, jadi konsp keseragaman yang selama ini kita anut, itu melanggar fitrah kita. Toh, kalau memang Tuhan menghendaki kita semua ciptaan-Nya ini, memiliki pandangan yang sama, tuhan dapat saja dengan mudah melkukannya, tapi Tuhan tak melakukannya bukan? Lalu mengapa kita, manusia-manusia ini, mau menjadi Tuhan dengan memaksa mahluk-mahluk ciptaan Tuhan untuk menjadi seragam?
baca tulisan ini lebih jauh

HAPPY IED!!!!

bagaimana mencari kata-kata yang cocok ya??
begini saja, langsung pada tema intinya:
Selamat idul adha 1431 H
mohon maaf lahir bathin!!

mmm...
baca tulisan ini lebih jauh

Mimpi: benarkah "pesan" yang dikirimkan Tuhan lewat tidur kita?

Ada banyak hal yang kita percayai tentang mimpi. Berbagai kebudayaan di peradaban manapun di seantero dunia punya tradisi mitos yang begitu kuat yang mempercayai adanya keterkaitan antara mimpi yang kita alami dengan kejadian nyata dalam kehidupan kita. Beberapa kebudayaan mempercayai bahwa mimpi merupakan pesan akan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Beberapa kebudayaan lain percaya bahwa mimpi merupakan media komunikasi bagi orang-orang yang telah mati untuk berinteraksi dengan manusia yang masih hidup, beberapa kepercayaan lain percaya bahwa mimpi merupakan cara Tuhan berbicara dengan manusia.

Semenjak dulu, saya sebenarnya tak pernah percaya dengan semua mitos itu. Bagi saya, tak ada satupun penjelasan argumentatif yang bisa menjelaskan keterkaitan antara mimpi dengan kejadian-kejadian di masa depan, bahkan penjelasan yang paling metafisis sekalipun. Satu-satunya penjelasan metafisis yang saya percaya tentang mimpi adalah bahwa mimpi merupakan keistimewaan yang Tuhan berikan kepada para Nabi, agar Tuhan bisa bicara dengan orang-orang terpilih itu lewat mimpi mereka. Dan keistimewaan itu hanya untuk para Nabi, yang lain tidak!

Saya mempercayai hal itu, hingga pada suatu ketika, mungkin satu atau dua minggu yang lalu saya mengalami kejadian aneh. Suatu malam saya mengalami dua mimpi berturut-turut dalam tidur saya. Saat pertama saya tidur malam itu, saya bermimpi bertemu dengan teman (teman? Yahh seperti itulah kami sering mengakuinya) semasa SMA. Dalam mimpi yang bersetting di halaman SMA itu, si teman lama menghampiri saya, lalu mohon pamit karena dia hendak pindah rumah. Beberapa detail dalam mimpi itu saya sudah lupa, anda pasti tahu susahnya mengingat detail-detail mimpi yang rumit, tapi yang pasti, dalam mimpi saya itu, si teman lama memohon izin karena hendak pindah rumah.

Setelah mimpi itu, saya sempat terbangun, sempat nonton TV sejenak, lalu tertidur kembali. Nah, setelah tertidur kembali, saya kembali bermimpi. Kali ini mimpinya agak lebih dramatis, saya bermimpi dikejar-kejar ayah saya yang waktu itu saya tak tahu alasannya kenapa, hingga dia seperti kesetanan mengejar-ngejar saya. Rasanya saat itu, saya muncul begitu saja dalam mimpi dan tiba-tiba saja berada dalam situasi di mana saya harus berlari mencari tempat sembunyi, sementara ayah saya berlari mengejar saya dengan kayu bakar di tangannya. Setelah mimpi itu, saya kembali terbangun, saya sempat berpikir alangkah anehnya mimpi ini, tapi saya percaya bahwa mimpi-mimpi yang aneh memang sering terjadi dalam tidur kita. Jadi, ini adalahsesuatu yang lumrah dan biasa terjadi.

Yang mengejutkan saya adalah ternyata pada hari itu juga saya mengalami dua peristiwa yang.. (apa ya bahasanya? Membekas? Dramatis? Memorable?) intinya susah saya lupakan. Pertama, pagi-pagi pas saya menelefon ayah untuk sebuah keperluan, ayah ternyata lagi marah sama saya. Ia sangat tersinggung dengan sikap saya beberapa minggu sebelumnya yang ternyata masih sangat membekas di hatinya. Selama ini ayah tak pernah bilang ke saya sebelumnya. Saking emosinya sama saya, saat bicara, ia bahkan terdengar hampir menangis. Saya merasa sangat menyesal saat itu juga, merasa bersalah, berdosa, merasa kurang ajar, tak tahu terima kasih. Di telefon, saya hanya bisa merasa bersalah dan mengutuki diri dalam hati. Ayah menutup telefonnya, sebelum saya sempat minta maaf..

Kedua, pas hari itu juga, saat saya lagi buka fesbuk, seorang teman lama (yang tadi muncul di mimpi) menyapa di chatroom. Setelah ngobrol beberapa lama, ia memberitahu saya, katanya beberapa minggu lagi mau nikah. Saya sangat terkejut, dia tak pernah bilang sebelumnya. Saya bahkan tak tahu bahwa dia punya pacar. Katanya, si lelaki itu teman waktu bimbel dulu. Waktu itu saya bilang, Alhamdulillah, semoga berbahagia, jadilah keluarga yang teduh dan semoga sukses dalam hidup.. sebelum dia offline, dia sempat bercanda, katanya sampai sekarang dia masih menunggu saya nembak. Ahh… ada-ada saja..

Saya sebenarnya tak ingin mempercayai segala takhyul dan mitos yang orang lain percayai tentang mimpi, tapi dua kejadian hari itu begitu nyata, dan semua orang yang mendengar kisah ini (walaupun saya tak pernah menceritakan kisah ini kecuali di blog ) pasti merasakan adanya kaitan antara dua mimpi saya hari itu dengan dua kejadian yang terjadi hari itu juga. Saya juga tak mungkin menyangkal kaitan ini.
Saya pernah mendengar penjelasan rasional dari seorang dosen (saya lupa siapa namanya), bahwa mimpi sebenarnya merupakan akibat dari proses penyusunan memori-memori yang ditangkap oleh otak kita. Saat kita tidur atau istrahat, otak kita menyusun kembali memori-memori yang telah direkam sepanjang hari dan memilah-milahnya ke dalam memori jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Nah.. menurut penjelasan ini, mimpi yang kita alami itu adalah efek dari aktifitas otak ini. Masalahnya adalah mimpi yang saya alami hari itu, bukanlah sesuatu yang pernah terekam dalam memori otak saya sebelumnya. Saya tak pernah tahu tentang kemarahan ayah saya sebelumnya. Dan saya juga tak pernah berkomunikasi lagi dengan si teman lama selama berbulan-bulan, saya juga tak pernah memikirkannya belakangan ini. Terakhir saya bertemu dia beberapa bulan yang lalu. Jadi, menganggap mimpi ini sama sekali hal biasa dan tak ada kaitan dengan kehidupan nyata justru terasa tak masuk akal.

Entahlah.. mimpi dan kenyataan memang berada pada dua dimensi kehidupan yang berbeda. Kita tak pernah (atau belum) benar-benar mampu menemukan benang merah antara keduanya. Tapi kadang-kadang kita tahu (sesubjektif apapun perasaan kita) bahwa ada kaitan besar (atau mungkin pesan) yang ingin disampaikan oleh mimpi kita..
baca tulisan ini lebih jauh

Kesibukan profesi: merampas semua waktu kita?

Judulnya memang agak sedikit provokatif (anak muda sekarang bilangnya lebay), tapi jujur saja saya sering memikirkan hal ini. Di sela-sela kesibukan sehari-hari, saya sering berpikir suatu saat nanti, ketika saya telah mencapai fase di mana kesibukan sebagai seorang calon dokter ataupun kesibukan sebagai seorang dokter mencapai masa di mana kesibukan itu benar-benar menghabiskan waktu saya yang hanya 24 jam itu, apakah saya masih punya sedikit waktu untuk diluangkan membaca buku-buku (buku-buku apa saja, selain buku kedokteran), membaca surat kabar, dan menonton film, seperti yang selama ini saya lakukan?

Selama ini, di tengah-tengah kesibukan (sebenarnya memang tak cocok disebut sebagai kesibukan, karena memang tak sibuk-sibuk amat) sebagai seorang mahasiswa kedokteran di sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar, saya selalu punya waktu yang bisa saya habiskan dengan membaca buku, membaca artikel-artikel menarik di surat kabar, atau menonton film-film menarik. Saya memang tak punya jadwal khusus untk melakukan semua kegiatan itu, tapi yang pasti, selalu saja ada waktu kosong yang bisa saya gunakan. Di tengah-tengah waktu belajar, ketika saya dilanda kebosanan membaca buku-buku kuliah, atau di tengah siang, saat lagi mengantuk berat mendengarkan penjelasan dosen di ruang kuliah, saya sering gunakan waktu itu untuk membaca novel, mebaca buku-buku filsafat, atau buku-buku sosial budaya atau kalau lagi malas baca buku saya memilih nonton film. Di tengah malam, saat lagi tak bisa tdur, saya sering buka catatan teman-teman di fesbuk atau blog mereka yang berisi puisi-puisi terbaru, atau saya nonton film. Pagi-pagi saat lagi malas masuk kuliah pagi, atau sabtu dan minggu pagi sebelum ke kampus (ahh… selalu saja ada hal yang harus dikerjakan di kampus, saat orang harusnya libur) saya sering gunakan waktu itu untuk baca artikel-artikel menarik di kompas atau sindo.

Tak lama lagi, saya mungkin akan menyelesaikan pendidikan preklinik di fakultas ini. Itu berarti bahwa saya akan memasuki fase-fase tersibuk dalam kehidupan saya sebagai calon dokter.Semua orang tahu, bagaimana sibuk dan sulitnya kehidupan coass di rumah sakit. Harus dinas tiap pagi di rumah sakit (anda harus datang tepat waktu, tak bisa nitip absen karena mahasiswa yang dinas cuma belasan orang, beda dengan semasa kuliah yang satu ruangan bisa berisi ratusan orang), setelah dinas, harus tugas jaga lagi (tentu saja anda harus jaga, karena keselamatan pasien di rumah sakit terletak pada coass yang jaga waktu itu), di sela-sela dinas dan tugas jaga itu anda harus pintar-pintar membagi waktu, antara mengerjakan referat (semacam ulasan ilmiah tentang suatu topic penyakit tertentu) yang sangat panjang, waktu untuk istrahat, dan waktu untuk belajar buat persiapan ujian yang susahnya minta ampun. Walaupun kesibukan di tiap-tiap bagian selama coass berbeda-beda, tapi secara umum, seperti itulah prosesnya. Intinya sibuk!!

Setelah lulus? Apalagi!!Setelah melewati masa koass, harus belajar intensif buat persiapan uji kompetensi yang terkenal super-susah. setelah lulus uji kompetensi , kesibukan kita tergantung jenjang karir dan profesi yang kita pilih, yang memilih jadi klinisi mungkin akan sibuk buat jaga di klinik-klinik, atau sibuk jadi dokter di puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah, yang memilih jadi dosen, mungkin sibuk dengan profesi barunya sebagai tenaga pengajar dan tenaga bantuan umum (yahh… anda tahulah dosen baru biasanya juga merangkap jadi tukang suruh-suruh dosen yang lebih senior). Sekarang lebih parah lagi, aturan baru untuk lulusan dokter sekarang, setelah lulus uji kompetensi harus magang di rumah sakit daerah dan puskesmas selamaminimal satu tahun. Sangat sibuk, bukan??

Pikiran dan ketakutan ini seringkali mengganggu pikiran saya, karena bagi saya, membaca buku-buku (novel, kumpulan cerpen, puisi, filsafat, sosial politik, budaya, bahkan komik sekalipun) serta nonton film itu bukan hanya tentang penyaluran hobi dan kegemaran. Lebih dari itu, membaca, tanpa disadari merupakan bagian dari pembentukan karakter kita. Terbiasa mebaca berbagai macam buku, menonton berbagai jenis film (kecuali film-film porno, itu tak dianjurkan sama sekali) bukan hanya memperluas wawasan dan khasanah pengetahuan kita, tapi juga merupakan elemen yangmempengaruhi cara berpikir kita, mempengaruhi tingkat kedewasaan kita. Dan ketika kelak kesibukan profesi ini mengambil waktu kita, saya ragu apakah kita masih punya waktu untuk mengisi otak kita dengan berbagai bacaan di luar bacaan medis. Seperti tubuh, pikiran kita juga perlu nutrisi, dan seperti yang saya pelajari, jika ingin sehat, nutrisi itu harus cukup dan seimbang takarannya.

Kita lihat saja nanti, semoga kenyataannya tak seperti yang saya takutkan. Semoga pikiran ini hanyalah perasaan-perasaan paranoid yang hadir begitu saja saat menyaksikan teman-teman lain yang sudah memasuki fase kehidupan kliniknya, yang sepertinya memang punya jadwal super-sibuk! Entahlah.. kita lihat saja nanti..
baca tulisan ini lebih jauh

karya seni, kepahlawanan dan skeptisme bangsa

beberapa hari yang lalu dalam sebuah diskusi dengan beberapa teman-teman, terlontar sebuah keluhan dari mulut seorang teman, katanya dia heran dengan seniman zaman sekarang. dia heran, katanya dari berapa banyak seniman yang ada di indonesia sekarang, tak satupun yang tertarik untuk mengangkat tema-tema kepahlawanan dalam karya mereka. ia membandingkan lagu-lagu yang dihasilkan sekarang semuanya tak satupun yang bertema kepahlawanan, bandingkan misalnya dengan lagu-lagu zaman dulu ketika zamannya ismail marzuki dengan lagu kopral jono nya hingga zamannya titiek puspa, semuanya punya tema lagu, setidaknya pernah membuat lagu, yang bertema kepahlawanan.

dalam hati saya manggut-manggut. benar juga ya... hhmmm.. mungkin benar kata seorang teman dulu. bahwa globalisasi ttidak hanya menghapuskan sekat sekat negara, sekat-sekat wilayah dan sekat sekat waktu, namun lebih dari itu kuga telah menghapuskan identitas manusia. menghapuskan perasaan bangga sebagai sebuah entitas bangsa.

di satu sisi, globalisasi dengan segala kompleksitasnya memang punya andil, tapi menurut saya ada juga satu hal penting yang menyebabkan kurangnya animo anak bangsa untuk menciptakan karya seni bertemakan kepahlawanan. yaitu kegagalan kepemimpinan. yah.. di zamannya ismail marzuki yang hidup di zaman revolusi fisik dan konfrontasi dengan malaysia, sosok bung karno yang khari9smatik memang begitu menginspirasi banyak orang. kepemimpinannya yang kuat (terlepas dari begitu banyaknya kontroversi terkait kebijakannya) begitu mampu menyihir dan memukau banyak orang, tidak hanya di Indonesia, namun juga menginspirasi dan mempengaruhi jutaan bangsa-bangsa tertindas dan terbelakang di segenap asia afrika.

Nah.. karya seni, apalagi lirik lagu merupakan hasil refleksi seniman terhadap kondisi zamannya. ketika soekarno menjadi pemimpin negeri, ia mampu memberikan arahan akan cita-cita bangsa, ia mampu membangkitkan semangat patriotisme anak bangsa. semangat inilah yang kemudian direkam oleh seniman-seniman waktu itu yang kemudian melahirkan kaya-karya kepahlawanan. sedangkan sekrang kepemimpinan kita hanya melahirkan pesimisme dan skeptisme terhadap kondisi dan masa depan bangsa. pemimpin tak mampu memberikan arahan yang jelasa akan cita-cita bangsa, dan juga tak mampu menumbuhkan semangat kebangsaan itu ke dalam kehidupan rakyatnya

jadi, bagaimana sekarang? kita tak mungkin menghidupkan soekarno untuk berdiri di depan jutaan rakyat Indonesia, dan berharap orasinya akan mampu menggetarkan rakyat republik ini. karena itulah, yang perlu (atau setidaknya yang terpikirkan oleh saya) untuk dilakukan oleh anak bangsa adalah berprestasilah! jadilah anak bangsa yang bisa dibanggakan jadilah anak bangsa yang bisa dijadikan inspirasi bagi jutaan rakyat yang sedang kehilangan harapan, bagi jutaan rakyat yang sedang dilanda skeptisme kronik.
baca tulisan ini lebih jauh

tukang parkir cilik yang sekalian ngamen

saya sedang di depan sebuah klinik, beberapa hari yang lalu saat tiba-tiba sesorang anak kecil mendekati saya. saat sedang hendak mengambil motor yang memang saya parkir di luar area klinik ( halaman klinik sempit, jadinya harus parkir motor di luar), seorang anak lelaki kecil yang saya taksir umurnya mungkin baru 5 atau 6 tahun mendekati saya, dengan entengnya si anak kecil ini menyodorkan telapak tangannya ke saya. hhmmm saya mengerti. ini anak pasti minta biaya parkir. ya.. anda tahulah, walaupun sebenarnya ia tak berhak menarik jasa uang parkir di area yang memang bukan halaman parkir itu, tapi rasanya tak enak berdebat dengan si anak kecil tadi. lagian juga waktu itu saya begitu kasihannya dengan si anak kecil yang penampilannnya begitu kucek dan kumuh.

jadinya, tanpa banyak timbang-timbung, pas si anak ini yang waktu itu lagi megang karton bekas di tangannya (mungkin bekas dos mi instan atau bekas dos air mineral) datang sambil nyanyi-nyanyi dan menodorkan tangannya ke arah saya. saya langsung berikan selembar uang seribu rupiah..

pas selesai saya kasih uang, ehhh.. si adik kecil dengan nyantainya bilang "ihhh boss.. dua ribu nahh... kau ndak liat ini saya juga ngamen?" dia bilang begitu sambil memmukul-mukulkan karton yang dipegang dengan tangan kanannya itu di punggung lengan kirinya, juga sambil nyanyi lagu yang tak saya tahu juudulnya apa, karena si anak kecil ini bilang huruf "r" saja masih belepotan.astaga!!!! saya langsung dongkol dalam hati. Ini anak kecil, dah beruntung juga saya mau kasih uang, eh pake acara bentak-bentak minta nambah lagi. betul-betul edan!!

saya langsung pelototkan mata ke itu anak. merasa dipelototin, itu anak langsung ngeluyur pergi entah ke mana. say pun meninggalkan tempat itu dengan geleng-geleng kepala.. betul-betul edan!!!!
baca tulisan ini lebih jauh

Spirit Sumpah Pemuda dan Relevansinya dalam Permasalahan Bangsa Ini

Beberapa hari lagi, kita akan sampai di tanggal 28 oktober. Sebuah hari, yang oleh bangsa ini banyak diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Bukannya bermaksud latah, dengan ikut-ikut menulis tentang sumpah Pemuda, namun merefleksikan proses kelahiran sebuah peristiwa sejarah dan menarik relevansinya ke dalam realitas kehidupan kita secara praktis, selain merupakan bentuk penghormatan kepada sejarah, juga sekaligus merupakan cara kita menghadirkan perubahan bagi bangsa ini.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua yang kelak melahirkan Sumpah Pemuda berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh indonesia. Panitia kongres yang diketuai Soegondo Atmowiloto menghadirkan perwakilan dari berbagai perhimpunan pemuda Indonesia yang waktu itu masih banyak merupakan representasi dari entitas-entitas kesukuan dan keagamaan. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda. Tema-tema besar yang diusung dalam kongres pemuda itu adalah nasionalisme, pendidikan dan kepanduan.

Di akhir kongres inilah dilakukan pembacaan teks hasil kongres yang belakangan disebut sebagi Sumpah Pemuda. Pembacaan Sumpah pemuda ini kemudian menggaung ke suluruh jajahan hindia Belanda, menjadi topik pembicaraan dan diskusi di berbagai forum, di berbagai studi klub, dan dalam waktu cepat melahirkan gelombang semangat nasionalisme yang kelak di kemudian hari melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Proses kelahiran sumpah pemuda yang dibacakan di Gedung Indonesisch Huis Kramat , 82 tahun silam ini, tidaklah lahir dari sebuah ruang yang hampa. Kelahirannya bukanlah hanya sebuah rangkaian proses sejarah yang determinis dari kejemuan masyarakat terhadap kondisu bangsa dan realitas penjajahan bangsa Eropa atas bumi nusantara namun juga merupakan hasil dari pergolakan pemuda sekaligus kualitas pemuda waktu itu.

Ada dua hal yang dimiliki pemuda Indonesia waktu itu yang mejadi titik tonggak kelahiran sumpah pemuda, yaitu kemampuan berpikir jauh ke depan dan keberanian mengambil sikap atas nasib bngsa sendiri. kemampuan berpikir jauh ke depan dan melompati mainstream pemikiran tradisional waktu itu yang masih bercirikan semangat kesukuan dan semangat keagamaan, merupakan hal yang baru . Begitu juga ide untuk menciptakan lahiranya sebuah negara-bangsa yang kelak bernama Indonesia (seperti tercantum dalam teks pidato yang dibacakan di kongres waktu itu oleh Moh.Jamin) merupakan sebuah terobosan ide yang belum terpikir oleh para generasi sebelumnya.

Bahkan lebih jauh lagi, kemampuan berpikir melampaui zamannya in telah dibawa oleh pemuda itu ke wilayah-wilayah yang jauh lebih universal, yaitu kesetaraan semua manusia. Penolakan terhadap segala bentuk kolonialisme dan dan penindasan sebuah bangsa atas bangsa lain merupakan hal-hal yang langka bagi pemuda-pemuda waktu itu yang bertahun-tahun hidup dalam feodalisme, baik di zaman kerajaan agraris hingga zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Yang juga menjadi hal penting dalam proses kelahiran sumpah pemuda adalah Keberanian mengambil sikap untuk menyatakan melawan entitas Hindia belanda yang disematkan oleh para penajah. Dengan lantangnya para pemuda meneriakkan sumpah Pemuda kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia raya yang digubah oleh WR. Supratman, padahal isi Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya tersebut tidak hanya merupakan pernyataan akan persatuan bangsa dari seluruh nusantara, lebih jauh dari itu juga merupakan pernyataan terang-terangan akan cita-cita mendirikan sebuah negara bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Pernyatan cita-cita nasionalisme ini tidak hanya mendapat tantangan dari pemerintah kolonial waktu itu yang mengawasi semua gerak gerik pemuda, namun juga mendapat tantangan berat dari pertanyaan apakah bangsa ini telah cukup mampu untuk berdiri di atas kaki sendiri. Namun dengan tegas para pemuda menjawab bahwa rakyat Indonesia mampu untuk berdiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Tujuh belas tahun kemudian, cita-cita besar ini benar-benar terwujud dengan pernyataan proklamasi tahun 1945 oelh Soekarno-Hatta.

Hari ini kita hidup dalam sebuah negara yang kehilangan karakternya sebagaia sebuah bangsa yang terhormat dan negara yang berdaulat. Kebudayaan kita yang lahir dari peradaban yang berusia ribuan tahun, hilang begitu saja dikikis oleh hegemoni budaya barat. Gejala disintegrasi bangsa dan konflik-konflik horizontal antar warganegara adir di mana-mana. Sebagai sebuah negara yang berdaulat, dengan mudahnya wilayah kita dicaplok negara lain. sebagai sebuah entitas politik, negara kita kehilangan taji dalam pergaulan internasional.

Gejala kehilangan karakter dan harga diri sebagai sebuah bangsa ini merupakan akibat dari ketidak mampuan negeri ini untuk menjadi sebuah negara-bangsa yang mandiri. adalah nyata bagi kita semua hari ini, bahwa dalam berbagai bidang kehidupan, kita mengalami ketergantungan (dependensi) terhadap bangsa lain.

Globalisasi ekonomi telah menyeret bangsa ini ke dalam dependensi terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi asing, yang celakanya tidak dibarengi dengan penguatan terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi mikro di skala local. Akibatnya, begitu mudahnya ekonomi kita disapu badai krisi di tahun 1997 dan kesenjangan kesejahteraan semakin dalam. Lebih jauh lagi permsalahn pelik terkait kemndirian bangsa ini telah menghasilkan prahara politik dan sosial yang berkepanjangan. Di bidang politik, campur tangan asing terhadap kebijakan-kebijakan negara sangat nyata terlihat.

Kembali ke semangat Sumpah pemuda tadi, kemampuan berpikir jauh ke depan dan melompati zaman merupakan sebuah spirit yang harusnya dihadirkan dalam realita permasalahan bangsa.karena sekali lagi, perubahan tidaklah lahir dari proses dialektika sejarah yang determinis. Kemampuan berpikir melampaui mainstream pemikiran umum seperti yang dimiliki oleh para pemuda angkatan 20-an harusnya bias menjadikan kita mampu memberikan sumbangan-sumbangan yang kreatif dan inovatif bagi perubahan bangsa.

Dan lebih dari itu, juga dibutuhkan keberanian para pemuda untuk menyatakan sikap terhadap persoalan mendasar bangsa ini. Permasalahan kemandirian bangsa kita, baik dalam bidang ekonomi, social maupun politik hanya bisa diselesaikan dengan ketegasan sikap. Di bidang ekonomi misalnya, kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat di Indonesia hanya bisa diwujudkan denan melaksanakan secara konsisten konsep ekonomi kerakyatan yang mandiri. Begitu juga di bidang politik, kebijakan yang tegas dan merdeka dari intervensi dari kekuatan asing lah yang bisa mengangkat harga diri kita sebagai sebuah bangsa.

Hari Sumpah pemuda bagi sebuah bangsa bernama Indonesia bukanlah hari yang lahir begitu saja. Ia lahir dari pergolakan, tidak hanya fisik, tapi juga pergolakan pemikiran yang alot. Beberapa di antara kita menjadikannya sebagai ritual yang kosong , dengan hanya sekedar diepringati, dijadikan tema-tema diskusi, dijadikan tema-tema aksi tanpa pernah kita benar-benar merefleksikan releansi semangat sumpah pemuda dalam tantangan bangsa hari ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda..
baca tulisan ini lebih jauh

NDP Lama vs NDP Baru; Benarkah Tak Bisa Dipertemukan?

Perdebatan dalam tubuh HmI terkait dengan penggunaan dua versi NDP (NDP lama versi kongres malang tahun 1969 dan NDP beru versi kongres Makassar tahun 2006) dalam pengkaderan hari ini semakin alot dan pelik. Jika tidak diselesaikan secepatnya, maka permasalahan ini akan menjadi semakin besar bahkan bukan tak mungkin akan menyebabkan perpecahan di tubuh HmI. Semua pihak yang masih peduli dan percaya pada kekuatan HmI tentu saja tidak mau peristiwa terpecahnya HmI menjadi HmI Dipo dan HmI MPO beberapa tahun silam terulang kembali.

Benarkah permasalahan adanya dualism versi NDP ini tak bisa diselesaikan? Mari kita mencoba melihat ke belakang, terkait latar belakang penyusunan dua versi NDP ini. NDP yang disusun oleh Nurkholish Madjid (mantan ketua umum PB HmI dua periode) berangkat dari kegalauan beliau akan tidak adanya konsep seragam yang baku dan representative untuk digunakan dalam semua pengkaderan HmI. Kegelisahan ini memuncak setelah Nurkholish Madjid (Cak Nur) melakukan kunjungan ke Amerika dan Negara-negara islam di timur tengah pada penghujung tahun 60-an. Dalam perjalanannya itu, Cak Nur melihat bahwa ajaran-ajaran dan praktek-praktek keberagamaan islam di seluruh penjuru dunia ternyata sangat beragam satu sama lain. Oleh karena itu, sepulangnya ke Indonesia Cak Nur merasa bahwa inti-inti ajaran agama islam yang harusnya menjadi dasar bagi seluruh gerak langkah umat islam perlu disarikan ke dalam sebuah format resmi agar bisa diajarkan secara sistematis dalam kegiatan-kegiatan pengkaderan HmI. Karena hal inilah, cak Nur hampir menamai NDP ini dengan nama Nilai-nilai dasar Islam, namun karena takut jika nantinya NDP ini di kemudian hari menjadi tafsir tungggal atas ajaran islam, maka Cak Nur menyebutnya sebagai Nilai dasar perjuangan saja.

Puluhan tahun setelah Nilai dasar perjuangan ini dipakemkan, seiring dengan perkembangan tantangan zaman, muncullah banyak keluhan dari hampir semua daerah di Indonesia bahwa banyak hal-hal baru yang tak mampu lagi dijawab oleh NDP lama ini. Di berbagai cabang, penafsiran kader dan metode penyampaian NDP sudah berbeda-beda, di Badko Jabar dan sekitarnya msialnya, dikenal adanya metode revolusi Kesadaran, di Badko Sulselrabar dikenal adanya dialog Kebenaran, dan berbagai metode penyampaian NDP lainnya. Di berbagai daerah juga muncul keluhan bahwa NDP lama sudah susah dimengerti oleh kader HmI.

Memang, jika kita lihat, usia NDP lama yang telah 40 tahun digunakan dalam kegiatan pengkaderan HmI merupakan usia yang telah cukup lama dan meniscayakan dibutuhkannya perbaikan dan rekonstruksi. Beberapa kader bahkan berkelakar bahwa NDP ini kadang-kadang diperlakukan seperti Al-Quran buruk: dibaca enggan karena tidak paham, tapi kalau dibuang juga takut kualat. Cak Nur sendiri juga pernah mengakui bahwa ekspektasinya sewaktu menyusun NDP pertama kali ialah bahwa NDP yang disusunnya itu bisa digunakan dalam waktu dua puluh tahun, sementara sekarang usia NDP sudah empat puluh tahun.

Jadi, pada dasarnya perbaikan dan rekonstruksi NDP memang merupakan hal yang rasional dan wajar dilakukan, apalagi bagi organisasi seperti HmI yang terkenal akan kultur intelektual dan dinamisnya. Namun letak masalahnya adalah sikap kekanak-kanakan kitadalam mempertahankan NDP yang kita gunakan masing-masing.
Jika saya perhatikan, letak penolakan orang-orang yang menggunakan NDP lama terhadap NDP baru disebabkan karena dua issu besar. Pertama, karena faktor legalitas proses penyusunannya yang tidak konstitusional dan yang kedua adalah karena isi materinya yang katanya lebih condong ke mazhab tertentu.

Factor legalitas ini banyak dipertanyakan karena keabsahan tim delapan yang merupakan penyususn resmi NDP baru tidak pernah disahkan secara resmi oleh PB, apalagi kemudian terungkap bahwa penyusunan NDP ini lebih banyak merupakan pemikiran tunggal Arianto Ahmad (seorang kader HmI dar cabang Makassar). Bagi saya penolakan NDP karena proses penyusunannya ini merupakan hal yang lucu. Harusnya, sebagai seorang kader HmI yang selalu mengaku mengedepankan rasionalitas dan berpikiran terbuka, permasalahan tentang abash atau tidaknya tim penyusun ini tak perlu dibesar-besarkan. Siapapun yang menyusun NDP ini selama sesuai dengan rasionalitas dan Alquran/sunnah maka ia wajib diterima. Tak peduli mau ditulis oleh tukang becak, sopirpete-pete, ataupun seorang professor selama ia sesuai dengan kebenaran maka wajib hukumnya kita terima.

Penolakan terhadap NDP baru karena terlihat lebih condong ke mazhab pemikiran tertentu dalam islam pun sebenarnya sangat aneh, karena sepanjang yang saya tahu NDP tak pernah berbicara tentang mazhab. Perbedaan mazhab adalah perbedaan tafsiran manusia di wilayah syariat, sedangkan NDP tak membahas tentang syariat. Kalaupun beberapa pemikiran dalam NDP baru, serta penyusun-penyusunnya dikatakan lebih dekat dengan mazhab-mazhab tertentu dalam islam, bukankah kita selama ini meyakini bahwa pendapat dari mazhab apapun, selama tidak bertentangan dengan rasionalitas dan Alquran/Sunnah maka wajib kita terima? Cak Nur sendiri, orang yang menyusun NDP lama, di masa hidupnya banyak ditolak pemikirannya karena dituduh berpikiran sekuler dan kebarat-baratan. Toh tuduhan itu tidak menjadikan kita menolak sosok Cak Nur dan pemikiran-pemikirannya.

Lalu benarkah NDP ini tak bisa dipertemukan. Jawabannya, iya, jika masih tetap mempertahankan sikap arogansi intelektual kita, jika semua orang masih merasa terlalu hebat dan pintar untuk menurunkan ego.

Pada dasarnya, perbedaaan antara NDP lama serta NDP baru terletak dalam sistematika penyusunan dan pendekatannya dalam menemukan kebenaran. konten-konten materi teologis (yang terdiri dari bab I hingga bab IV) dalam NDP baru banyak dipengaruhi oleh cara berpikir metafisika islam yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir islam kontemporer, beberapa di antara pemikir-pemikir tersebut seperti Muhammad Baqir Al Shadr dan Mulla Shadra (yang banyak terlihat dalam bagian-bagian teologis NDP baru) serta Ali syariati (yang banyak dijadikan referensi pemikiran dalam aspek sosiologis NDP baru). Karena pentingnya pemahaman metafisika Islam dalam bagian teologis NDP baru, makanya dalam NDP baru ditambahkan bab logika dan kerangka berpikir.

Dalam NDP baru, diajarkan bahwa keyakinan mestilah bersumber dari pengetahuan yang rasional. Karena itu dalam bab-bab awal NDP baru diajarkan bagaimana menemukan kebenaran rasional hingga sampai pada pembuktian kebenaran ajaran Islam. Sedangkan dalam NDP lama sendiri, tidaklah banyak membahas tentang metode rasional dalam membuktikan kebenaran ajaran Islam, tapi hanya menyarikan inti ajaran-ajarannya saja. Sedangkan pada wilayah Antropo-sosiologis (bab V sampai bab VIII), NDP lama tidak banayk berbeda dengan NDP baru.

Menemukan titik temu dalam materi NDP ini sebenarnya bukanlah hal yang sulit jika semua kader mulai dari tingkatan komisariat hingga tingkatan PB mau berniat baik menurunkan ego demi perbaikan HmI ke depan. Perdebatan tentang NDP ini jika dibiarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan perpecahan di internalHmI dan tentu saja yang akan menjadi korban adalah adik-adik di bawah. Bukankah tantangan hari ini semakin berat dan rumit, yang membutuhkan waktu dan tenaga kita? jika kita masih saja terus berdebat di wilayah NDP ini, maka kita akan dilindas oleh perubahan zaman.
baca tulisan ini lebih jauh

Perdebatan tentang NDP; Perdebatan yang Kekanak-kanakan

Dalam dua tahun belakangan ini, ada sebuah hal menarik yang menjadi isu besar dalam dinamika permasalahan internal Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), yaitu perdebatan tentang Nilai Dasar Perjuangan. Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa perdebatan ini dimulai sejak disahkannya NDP baru di kongres HmI ke 26 di Makassar (makanya sering juga disebut sebagai NDP Makassar). Disebut baru, karena NDP ini merupakan pertama kalinya materi-materi NDP yang diajarkan di seluruh Indonesia diubah, sejak NDP ini pertama kali dirumuskan oleh Nurkholish Madjid (Cak Nur) pada tahun 1969. Pasca pengesahan penggunaan NDP baru ini sebagai dasar pengkaderan HmI menggantikan NDP versi Cak Nur (atau sering disebut sebagai NDP lama) rausan cabang yang ada di seluruh Indonesia terbelah dua, antara menggunakan NDP baru versi kongres Makassar dengan yang tetap menggunakan NDP lama.

Perdebatan tentang NDP mana yang digunakan dalam kegiatan-kegaiatan pengkaderan HmI ini berlangsung alot dan berlarut-larut dalam dua tahun belakangan. Mulai dari perdebatan warung kopi ala anak-anak HmI, menjadi bahan diskusi di forum-forum basic training hingga menjadi wacana panas yang bergulir pra-kongres.

Memang perbedaan pandangan dan pendapat dalam tradisi HmI bukanlah hal yang tabu dan janggal, bahkan budaya pluralitas dan perbedaan pandangan ini sendiri merupakan sebuah ciri khas sendiri bagi puluhan tahun pengalaman hidup HMI. Namun saya melihat bahwa ada yang salah dalam perdebatan tentang dualisme NDP di tubuh HmI selama ini. Perdebatan tentang NDP yang saya lihat cenderung mengarah pada perdebatan yang tidak substantif. Mengapa saya katakan tidak substantif, karena argumentasi-argumentasi yang sering muncul dalam perdebatan NDP bukanlah argumentasi yang menjelaskan tentang materi NDP yang berusaha dipertahankan oleh masing-masing pihak, melainkan argumentasi yang berusaha menyerang kelemahan NDP lain. Parahnya, saya melihat ada kecenderungan bahwa yang diserang dari NDP lain itu bukanlah isi NDP nya melainkan proses penyusunan NDP nya.

Coba kita perhatikan, Pihak yang mendukung NDP lama menyerang NDP baru karena proses penyusunannya yang katanya sangat tidak konstitusional, karena legalitas tim 8 sebagai penyusun naskah NDP tidak pernah diakui, Selain itu tim penyusunnya waktu itu dipengaruhi oleh pemikiran tunggal Arianto Ahmad yang disebut-sebaut sebagai pencetus ide NDP baru. Jika anda pernah membaca laporan hasil kerja tim sembilan (tim yang dibentuk oleh Pengurus Besar HmI untuk memverivikasi keabsahan NDP) serta naskah NDP yang dikirim ke seluruh cabang, maka kita bisa melihat bahwa argumentasi diberikan oleh Pengurus Besar (PB) HmI (yang belakangan menyatakan kembali ke NDP lama versi Cak Nur) merupakan penghakiman-penghakiman atas proses penyusunannya.

Di lain pihak, para pendukung NDP baru juga cenderung terjebak dalam perdebatan kekanak-kanakan ini dengan menyerang pemikiran Cak Nur sewaktu penyusunan NDP lama yang katanya banyak dipengaruhi oleh perjalanannya ke Amerika dan Timur Tengah.
Kenyataan ini diperparah dengan sikap tidak dewasa yang turut dipertontonkan oleh kader-kader HmI dalam polemik NDP ini. Sikap arogan dan merasa benar sendiri merupakan hal yang lumrah kita temui dalam perdebatan-perdebatan tentang NDP. Beberapa forum ilmiah yang harusnya bisa menjadi tempat dialog dan mempertemukan pendapat, berakhir tanpa menghasilkan apa-apa karena masing-masing pihak tidak dewasa dalam memandang permasalahan ini. Tokoh-tokoh dan sesepuh HmI yang harusnya bisa menunjukkan sikap dewasa dalam perdebatan ini juga malah ikut-ikutan menunjukkan arogansi intelektualnya, bahkan dalam beberapa hal menunjukkan taqlid buta dan pengagungan berlebihan terhadap Cak Nur.

Harusnya, perdebatan-perdebatan tentang NDP ini tidak dibawa ke perdebatan kusir yang tak kunjung usai melainkan dibawa ke forum-forum yang ilmah. Tapi tentu saja, menyediakan forum ilmiah juga tak akan pernah menyelesaikan masalah jika tak dibarengi dengan kedewasaan kader HmI dalam memandang persoalan ini. Bagi yang mendukung NDP lama versi kongres Makassar, silahkan ajukan rasionalisasi di forum ini secara ilmiah, jangan menutup diri terhadap perubahan, bukankah Cak Nur sendiri pernah bilang bahwa NDP hanyalah tafsiran beliau terhadap ajaran agama Islam yang selalu terbuka untuk dikritik dan diperbaiki. Yang mendukung NDP baru juga silahkan ajukan argumentasi dan berhenti memojokkan Cak Nur. Semua pihak juga harus berupaya persoalan NDP ini tidak dibawa ke ranah-ranah politis. Bagi para senior-senior HmI, juga harus menunjukkan kebijaksanaan dan keluasan cara berpikir, karena arogansi intelektual hanya akan membuat kita ditertawakan. Bukankah selama ini kader-kader HmI selalu mengklaim diri sebagai manusia-manusia intelektual, yang selalu bepikir inklusif dan dinamis?

Terakhir, saya ingin menyitir pendapat salah seorang pengurus PB HmI (saya lupa namanya) terkait dengan dualisme NDP ini. Beliau bilang, Jika kita ingin menyelesaikan masalah NDP ini secara serius, singkirkan NDP Cak Nur, singkirkan NDP Makassar, mari susun NDP baru. Mari melangkah maju, jangan mundur ke belekang.
baca tulisan ini lebih jauh

Anak-anak yang kehilangan masa kecil?

Minggu lalu, ada yang menarik dari kuliah hari pertama sistem tumbuh kembang dan geriatri. Bukan karena tempat kuliahnya yang lain dari biasanya ataupun jumlah mahasiswa yang ikut yang cuma 18 orang (yah maklumlah, kelas terminal). Namun yang menarik dari kuliah hari pertama itu, yang masih saya ingat hingga sekarang, adalah cerita dosen tumbuh kembang anak waktu itu.

Begini, setelah menjelaskan konsep dan aspek-aspek medis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dosen bercerita tentang pasiennya beberapa waktu lalu. Alkisah, si dosen yang kebetulan dokter ahli penyakit anak (yang tentu saja berprofesi juga sebagai dokter klinik, seperti kebanyakan dokter lainnya) didatangi oleh sepasang orang tua yang membawa serta anaknya. Sepasang orang tua itu mengeluhkan anaknya yang sudah seminggu tak mau makan. Tentu saja si orang tua ini kelimpungan. Si anak yang baru berusia enam tahun ini, tiba-tiba saja selalu menolak makan. Ditanya apa sebabnya juga tak mau menjawab. Usut-punya usut setelah dokter meminta kedua orang tua si anak keluar ruangan dan berbicara sebentar dengan si anak, barulah si dokter tahu, kalo si anak ini tak mau makan karena protes pada kedua orang taunya. Beberapa minggu lalu dia dipaksa keduia orang tuanya untuk ikut les matematika. Si anak beralasan tak mau lagi ikut les, karena kalau dia ikut les, waktu bermainnya akan berkurang, padahal, dia sebelumnya sudah ikut les bahasa inggris, dan les piano masing-masing dua kali seminggu.

bagi beberapa dokter, terutama dokter anak dan dokter kejiwaan, kejadian semacam ini bukanlah hal yang langka terjadi, apalagi bagi dokter-dokter yang hidup dan buka praktek klinik di kota besar. tingginya angka keluhan tekanan pada anak merupakan hal yang disepakati, berkaitan erat dengan kehidupan kota.

Tentu saja ini adalah fenomena yang memiriskan. usia anak pada dasarnya adalah usia untuk bermain. Perkembangan kecerdasan emosi dan spiritual anak berkemmbang secara pesat pada usia 0-6 tahun, Jika anak terlalu cepat dipaksa belajar hal-hal yang sebenarnya belum waktunya, maka akan menimbulkan efek negatif bagi perkembangan anak.

ada banyak hal yang menyebabkan orang tua bertindak di luar batas hingga memaksa anak untuk mengikuti berbagai les atau pendidikan khusus dan semacamnya. faktor yang paling berpengaruh adalah ketidaktahuan orang tua akan pertumbuhan dan perkembangan anak. kebanyakan orang tua tak tahu bahwa usia kanak-kanak merupakan waktu bagi anak untuk belajar melalui bermain. melalui bermain anak-anak belajar berinteraksi dengan lingkungannya, belajar mengenali hal-hal baru dalam kehidupannya.

Hal lain yang menurut saya cenderung menjadikan kita memaksa anak untuk terlalu cepat menjadi "dewasa' adalah pemikiran materialistis kita. Kita cenderung menganggap bahwa keberhasilan anak cenderung ditentukan oleh secepat apa ia belajar matematika, belajar bahasa inggris, belajar eksakta dan sebagainya. Kita menganggap bahwa kesuksesan akan perlu dipersiapkan sedini mungkin. memmang betul, bahwa anak perlu dipersiapkan, tapi memaksakan anak untuk mencerna da melakukan aktifitas rutin yang membelenggu waktunya untuk bermain justru mengganggu perkembangan anak.

Apa akibat yang terjadi bagi anak yang terlalu cepat menjadi dewasa ini? ya, mereka akan kehilangan kreatifitasnya, anak-anak akan kehilangan kemampuan kreatifitas, kemampuan belajar hal-hal baru, dan kemampuan belajar mengembangkan bakat alamiahnya karena terlalu cepat digerendel dengan cara belajar ala sekolah yang kaku. akibatnya anak akan kehilangan karakter, bahkan sedikit lagi menjadikan anak bermental robot.Bermental robot, karena perkembangan kepribadian anak yang harusnya berkembang di umur aweal terhalang oleh rutinitas yang menjemukan.

Mengurangi waktu bermain anak dengan teman-temannya juga dipercaya menjadi penyebab utama perilaku asosial anak. Kehilangan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain sejak kecil justru membunuh kecerdasan interpersonal anak. Padahal kemampuan inilah yang dibutuhkan bagi masa depan anak.

ya.. semua orang sepakat bahwa pendidikan memang penting bagi anak. Tetapi memaksa anak-untuk melakukan di luar kemampuanya adalah perilaku yang tidak memanusiakan anak.. Bukankah tujuan kita mendidik anak adalah menjadikannya manusia seutuhnya?
baca tulisan ini lebih jauh

BAsic Training dan relevansinya dalam kehidupan kita

Saya menulis catatan ini, beberapa jam sebelum pembukaan basic training Himpunan Mahasiswa ISlam (HmI)angkatan ke-80 komisariat kedokteran Unhas, yang akan dibuka sebentar lagi di LAN antang. basic training yang ke-80, sebuah rentang waktu yang begitu panjang tentu saja. Dari sejak basic training diselenggarkan berpuluh-puluh tahun lalu di fakultas kedokteran oleh para generasi fakultas kedokteran Unhas pertama, telah begitu panjang waktu yang telah dilewati, begitu banyak perubahan yang terjadi dan begitu banyak alumni yang telah ditetaskan di forum yang sering juga disebut LK (latihan kader) tingkat I ini.

Tentu saja, di usianya yang telah dewasa( saya berusaha menghibur diri dengan tak menyebutnya tua), ada banyak hal yang telah dilewati dan mengalami perubahan dari penyelenggaraan basic training, mulai dari permasalahan teknis, seperti bagaimana cari dana, bagaimana panjang waktunya, hingga permasalahan konseptual mendasar dalam penyelenggaraan pengkaderan. Namun dari sekian banyak perubahan yang terjadi itu, ada satu pertanyaaan penting yang harusnya kita jawab, yaitu benarkah basic training telah mencapai tujuan mulianya sejak pertama diselenggarakan yaitu membentuk karakter insan cita?

Terlepas dari begitu banyak alumni basic training HmI yang kelak di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh nasional di berbagai bidang kehidupan, mulai dari pengusaha sampai politikus, mulai dari dokter sampai tentara, kita tetap saja harus bertanya, bagaimana relevansi basic training dengan peningkatan kualitas manusia-manusia alumninya, utamanya dalam menghadapi kompleksitas permasalahan masyarakat hari ini.

Hari ini kita hidup di dunia yang semakin kompleks dan rumit untuk dimengerti.
Kemajuan peradaban manusia, dalam berbagai bidang telah membawa kita pada kondisi dunia yang semakin rumit untuk dijelaskan. Perkemabngan kebudayaan kita telah menghasilkan kecenderungan-kecenderungan yang membuat kita tak mampu lagi benar-benar memahami realitas dunia tempat kita hidup dengan menggunakan teori-teori sosial klasik. Itulah sebanya, belakangan ini berkembanglah teori-teori baru yang berusaha menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang semakin sulit dimengerti, semisal teori-teori post strukturalisme, teori-teori postmodernisme dan berbagai pendekatan lain yang berusaha dikembangkan.

Akibat lebih jauh dari semakin kompleks dan rumitnya realitas dunia ini, membuat nilai-nilai norma dan batas-batas kebajikan yang selama ini menjadi tempat kita berpegang dan berpijak sedikit banyaknya perlu disusun kembali. Kadang-kadang, pergeseran nilai dan batas-batas ini menjadikan kita kehilangan arah dan orientasi dalam menjalani kehidupan.

Nah.. harusnya di sinilah peran basic training sebagai tempat kelahiran pemikiran-pemikiran kader HmI. Basic Training tidak hanya menjadi tempat kita merevolusi pemikiran kita dari pemikiran yang primitif ke pemikiran yang lebih baik, tapi juga memberikan pijakan dasar bagi pembangunan paradigma (cara pandang) baru kita dalam melihat realitas dunia, agar di tengah zaman yang multitafsir (bahkan dalam beberapa hal, mengarah ke nihilisme) kita tidak kehilanan arah dan pijakan.

Dalam Basic Training sendiri, sebenarnya yang menjadi intinya adalah nilai dasar perjuangan, atau bisa disingkat NDP (mohon maaf jika analisa ini berasal dari pemikiran saya yang masih dangkal mengenai Basic Training dan nilai dasar pejuangan). Dan NDP sendiri pada hakikatnya mengandung dua hal penting yaitu, dekonstruksi cara berpikir lama dan pembangunan pondasi bagi cara perpikir baru yang lebih rasional. Dekonstruksi cara berpikir lama mengarah pada usaha mengubah cara berpikir kita yang selama ini masih primitif, suka taqlid buta, tidak rasional dan cenderung menjauhi kebenaran. Itu sebabnya di forum basic training, sering ada yang disebut sebagai forum "dialog kebenaran" (sering dipakai di daerah sulawesi) atau "revolusi kesadaran" (sering dipakai di daerah jawa barat dan sumatera) atau istilah-istilah lain yang mengarah pada usaha mengubah cara berpikir kita menjadi lebih rasional, inklusif, dan universal. materi-materi NDP sendiri, yang dibagi ke dalam 8 bab adalah paradigma baru dalam memandang dunia kader HmI. NDP tidak hanya memberikan arahan bagi pencapaian keimanan yang sebenarnya (aspek teologis) namun juga sampai pada pencapaian tanggung jawab kemanusiaan dan tanggung jawab sosial (aspek antropo-sosiologis) manusia.

Pada fungsinya, dalam merekonstruksi dan memberikan arahan bagi cara pandang baru inilah, basic training diharapkan menjadi sebuah langkah awal bagi pembagunan karakter insan cita. Tentu saja, selalu dibutuhkan perbaikan-perbaikan dan adaptasi agar forum-forum baic training tidak hanya menjadi ritual-ritual yang kehilangan makna dan fungsi.

Selamat buat bunga-bunga baru hijau hitam. tumbuhlah. hiduplah seribu tahun lagi, agar wangimu mewarnai jalan-jalan masa depan
baca tulisan ini lebih jauh