Anak-anak yang kehilangan masa kecil?

Minggu lalu, ada yang menarik dari kuliah hari pertama sistem tumbuh kembang dan geriatri. Bukan karena tempat kuliahnya yang lain dari biasanya ataupun jumlah mahasiswa yang ikut yang cuma 18 orang (yah maklumlah, kelas terminal). Namun yang menarik dari kuliah hari pertama itu, yang masih saya ingat hingga sekarang, adalah cerita dosen tumbuh kembang anak waktu itu.

Begini, setelah menjelaskan konsep dan aspek-aspek medis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dosen bercerita tentang pasiennya beberapa waktu lalu. Alkisah, si dosen yang kebetulan dokter ahli penyakit anak (yang tentu saja berprofesi juga sebagai dokter klinik, seperti kebanyakan dokter lainnya) didatangi oleh sepasang orang tua yang membawa serta anaknya. Sepasang orang tua itu mengeluhkan anaknya yang sudah seminggu tak mau makan. Tentu saja si orang tua ini kelimpungan. Si anak yang baru berusia enam tahun ini, tiba-tiba saja selalu menolak makan. Ditanya apa sebabnya juga tak mau menjawab. Usut-punya usut setelah dokter meminta kedua orang tua si anak keluar ruangan dan berbicara sebentar dengan si anak, barulah si dokter tahu, kalo si anak ini tak mau makan karena protes pada kedua orang taunya. Beberapa minggu lalu dia dipaksa keduia orang tuanya untuk ikut les matematika. Si anak beralasan tak mau lagi ikut les, karena kalau dia ikut les, waktu bermainnya akan berkurang, padahal, dia sebelumnya sudah ikut les bahasa inggris, dan les piano masing-masing dua kali seminggu.

bagi beberapa dokter, terutama dokter anak dan dokter kejiwaan, kejadian semacam ini bukanlah hal yang langka terjadi, apalagi bagi dokter-dokter yang hidup dan buka praktek klinik di kota besar. tingginya angka keluhan tekanan pada anak merupakan hal yang disepakati, berkaitan erat dengan kehidupan kota.

Tentu saja ini adalah fenomena yang memiriskan. usia anak pada dasarnya adalah usia untuk bermain. Perkembangan kecerdasan emosi dan spiritual anak berkemmbang secara pesat pada usia 0-6 tahun, Jika anak terlalu cepat dipaksa belajar hal-hal yang sebenarnya belum waktunya, maka akan menimbulkan efek negatif bagi perkembangan anak.

ada banyak hal yang menyebabkan orang tua bertindak di luar batas hingga memaksa anak untuk mengikuti berbagai les atau pendidikan khusus dan semacamnya. faktor yang paling berpengaruh adalah ketidaktahuan orang tua akan pertumbuhan dan perkembangan anak. kebanyakan orang tua tak tahu bahwa usia kanak-kanak merupakan waktu bagi anak untuk belajar melalui bermain. melalui bermain anak-anak belajar berinteraksi dengan lingkungannya, belajar mengenali hal-hal baru dalam kehidupannya.

Hal lain yang menurut saya cenderung menjadikan kita memaksa anak untuk terlalu cepat menjadi "dewasa' adalah pemikiran materialistis kita. Kita cenderung menganggap bahwa keberhasilan anak cenderung ditentukan oleh secepat apa ia belajar matematika, belajar bahasa inggris, belajar eksakta dan sebagainya. Kita menganggap bahwa kesuksesan akan perlu dipersiapkan sedini mungkin. memmang betul, bahwa anak perlu dipersiapkan, tapi memaksakan anak untuk mencerna da melakukan aktifitas rutin yang membelenggu waktunya untuk bermain justru mengganggu perkembangan anak.

Apa akibat yang terjadi bagi anak yang terlalu cepat menjadi dewasa ini? ya, mereka akan kehilangan kreatifitasnya, anak-anak akan kehilangan kemampuan kreatifitas, kemampuan belajar hal-hal baru, dan kemampuan belajar mengembangkan bakat alamiahnya karena terlalu cepat digerendel dengan cara belajar ala sekolah yang kaku. akibatnya anak akan kehilangan karakter, bahkan sedikit lagi menjadikan anak bermental robot.Bermental robot, karena perkembangan kepribadian anak yang harusnya berkembang di umur aweal terhalang oleh rutinitas yang menjemukan.

Mengurangi waktu bermain anak dengan teman-temannya juga dipercaya menjadi penyebab utama perilaku asosial anak. Kehilangan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain sejak kecil justru membunuh kecerdasan interpersonal anak. Padahal kemampuan inilah yang dibutuhkan bagi masa depan anak.

ya.. semua orang sepakat bahwa pendidikan memang penting bagi anak. Tetapi memaksa anak-untuk melakukan di luar kemampuanya adalah perilaku yang tidak memanusiakan anak.. Bukankah tujuan kita mendidik anak adalah menjadikannya manusia seutuhnya?
4 Responses
  1. pintarnya itu anak ngambek padahal masih kecil, bgmn besarnya, hehe..


  2. fadlanous Says:

    itumi juga sy tanyakan... jagonya ini anak ngambek...
    sy curiga ini anak kebanyakan nonton sinetron kalo di rumah...
    hehehe


  3. pastii cinta fitri sinetronnya itu, hehe..


  4. fadlanous Says:

    nda tau mi jg dek..
    bayangkan mi itu kalo si anak ini nonton cinta fitri di usianya yg sekarang... artinya dia sudah nonton cinta fitri sejak usia 4 tahun!!