Tampilkan postingan dengan label dialog ke-HmI-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dialog ke-HmI-an. Tampilkan semua postingan

Jika Tuhan saja menginginkan kita berbeda, mengapa kita mau memaksakan penyeragaman?

Beberapahari yang lalu saya membaca tulisan seseorang (yang kebetulan seorang senior saya, di FK) di halaman fesbuknya. Tulisan itu berkisah tentang kerinduan si penulis yang telah bertahun-tahun belajar dan bekerja di luar negeri (waktu itu lagi hari ray lebaran, jadi si senior ini mungkin lagi homesick berat sama kampong halamannya). Si penulis menceritakan tntang kerinduan akan tradisi dan ritual-ritual yang dulu selalu dilakukan si penulis semasa di kampung halaman. Tak lupa pula ia mengomentari perbedaan shalat idul adha yang memang hanya terjadi di Indonesia. Bagi si penulis, perbedaan dalam pelaksanaan shlat idul adha, sejauh ini tak perlulah didramatisir sedemikian rupa. Toh, perbedaan dalam beragama memang hal yang fitrawi.

Lumayan banyak teman-teman yang memberikan komentarnya untuk tulisan itu. Komennya pun beraneka ragam,tapi sebagian besar komentar yang muncul terait dengan isu perbedaan pandangan dalam beragama.

Ada sebuah kutipan yang menurut saya menarik daribeberapa komentar tersebut. Seorang teman penulis berkomentar bahwa perbedaan pandangan merupakan sebuah kemestian. Baginya perbedaan merupakan fitrah kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan, jadi konsp keseragaman yang selama ini kita anut, itu melanggar fitrah kita. Toh, kalau memang Tuhan menghendaki kita semua ciptaan-Nya ini, memiliki pandangan yang sama, tuhan dapat saja dengan mudah melkukannya, tapi Tuhan tak melakukannya bukan? Lalu mengapa kita, manusia-manusia ini, mau menjadi Tuhan dengan memaksa mahluk-mahluk ciptaan Tuhan untuk menjadi seragam?
baca tulisan ini lebih jauh

NDP Lama vs NDP Baru; Benarkah Tak Bisa Dipertemukan?

Perdebatan dalam tubuh HmI terkait dengan penggunaan dua versi NDP (NDP lama versi kongres malang tahun 1969 dan NDP beru versi kongres Makassar tahun 2006) dalam pengkaderan hari ini semakin alot dan pelik. Jika tidak diselesaikan secepatnya, maka permasalahan ini akan menjadi semakin besar bahkan bukan tak mungkin akan menyebabkan perpecahan di tubuh HmI. Semua pihak yang masih peduli dan percaya pada kekuatan HmI tentu saja tidak mau peristiwa terpecahnya HmI menjadi HmI Dipo dan HmI MPO beberapa tahun silam terulang kembali.

Benarkah permasalahan adanya dualism versi NDP ini tak bisa diselesaikan? Mari kita mencoba melihat ke belakang, terkait latar belakang penyusunan dua versi NDP ini. NDP yang disusun oleh Nurkholish Madjid (mantan ketua umum PB HmI dua periode) berangkat dari kegalauan beliau akan tidak adanya konsep seragam yang baku dan representative untuk digunakan dalam semua pengkaderan HmI. Kegelisahan ini memuncak setelah Nurkholish Madjid (Cak Nur) melakukan kunjungan ke Amerika dan Negara-negara islam di timur tengah pada penghujung tahun 60-an. Dalam perjalanannya itu, Cak Nur melihat bahwa ajaran-ajaran dan praktek-praktek keberagamaan islam di seluruh penjuru dunia ternyata sangat beragam satu sama lain. Oleh karena itu, sepulangnya ke Indonesia Cak Nur merasa bahwa inti-inti ajaran agama islam yang harusnya menjadi dasar bagi seluruh gerak langkah umat islam perlu disarikan ke dalam sebuah format resmi agar bisa diajarkan secara sistematis dalam kegiatan-kegiatan pengkaderan HmI. Karena hal inilah, cak Nur hampir menamai NDP ini dengan nama Nilai-nilai dasar Islam, namun karena takut jika nantinya NDP ini di kemudian hari menjadi tafsir tungggal atas ajaran islam, maka Cak Nur menyebutnya sebagai Nilai dasar perjuangan saja.

Puluhan tahun setelah Nilai dasar perjuangan ini dipakemkan, seiring dengan perkembangan tantangan zaman, muncullah banyak keluhan dari hampir semua daerah di Indonesia bahwa banyak hal-hal baru yang tak mampu lagi dijawab oleh NDP lama ini. Di berbagai cabang, penafsiran kader dan metode penyampaian NDP sudah berbeda-beda, di Badko Jabar dan sekitarnya msialnya, dikenal adanya metode revolusi Kesadaran, di Badko Sulselrabar dikenal adanya dialog Kebenaran, dan berbagai metode penyampaian NDP lainnya. Di berbagai daerah juga muncul keluhan bahwa NDP lama sudah susah dimengerti oleh kader HmI.

Memang, jika kita lihat, usia NDP lama yang telah 40 tahun digunakan dalam kegiatan pengkaderan HmI merupakan usia yang telah cukup lama dan meniscayakan dibutuhkannya perbaikan dan rekonstruksi. Beberapa kader bahkan berkelakar bahwa NDP ini kadang-kadang diperlakukan seperti Al-Quran buruk: dibaca enggan karena tidak paham, tapi kalau dibuang juga takut kualat. Cak Nur sendiri juga pernah mengakui bahwa ekspektasinya sewaktu menyusun NDP pertama kali ialah bahwa NDP yang disusunnya itu bisa digunakan dalam waktu dua puluh tahun, sementara sekarang usia NDP sudah empat puluh tahun.

Jadi, pada dasarnya perbaikan dan rekonstruksi NDP memang merupakan hal yang rasional dan wajar dilakukan, apalagi bagi organisasi seperti HmI yang terkenal akan kultur intelektual dan dinamisnya. Namun letak masalahnya adalah sikap kekanak-kanakan kitadalam mempertahankan NDP yang kita gunakan masing-masing.
Jika saya perhatikan, letak penolakan orang-orang yang menggunakan NDP lama terhadap NDP baru disebabkan karena dua issu besar. Pertama, karena faktor legalitas proses penyusunannya yang tidak konstitusional dan yang kedua adalah karena isi materinya yang katanya lebih condong ke mazhab tertentu.

Factor legalitas ini banyak dipertanyakan karena keabsahan tim delapan yang merupakan penyususn resmi NDP baru tidak pernah disahkan secara resmi oleh PB, apalagi kemudian terungkap bahwa penyusunan NDP ini lebih banyak merupakan pemikiran tunggal Arianto Ahmad (seorang kader HmI dar cabang Makassar). Bagi saya penolakan NDP karena proses penyusunannya ini merupakan hal yang lucu. Harusnya, sebagai seorang kader HmI yang selalu mengaku mengedepankan rasionalitas dan berpikiran terbuka, permasalahan tentang abash atau tidaknya tim penyusun ini tak perlu dibesar-besarkan. Siapapun yang menyusun NDP ini selama sesuai dengan rasionalitas dan Alquran/sunnah maka ia wajib diterima. Tak peduli mau ditulis oleh tukang becak, sopirpete-pete, ataupun seorang professor selama ia sesuai dengan kebenaran maka wajib hukumnya kita terima.

Penolakan terhadap NDP baru karena terlihat lebih condong ke mazhab pemikiran tertentu dalam islam pun sebenarnya sangat aneh, karena sepanjang yang saya tahu NDP tak pernah berbicara tentang mazhab. Perbedaan mazhab adalah perbedaan tafsiran manusia di wilayah syariat, sedangkan NDP tak membahas tentang syariat. Kalaupun beberapa pemikiran dalam NDP baru, serta penyusun-penyusunnya dikatakan lebih dekat dengan mazhab-mazhab tertentu dalam islam, bukankah kita selama ini meyakini bahwa pendapat dari mazhab apapun, selama tidak bertentangan dengan rasionalitas dan Alquran/Sunnah maka wajib kita terima? Cak Nur sendiri, orang yang menyusun NDP lama, di masa hidupnya banyak ditolak pemikirannya karena dituduh berpikiran sekuler dan kebarat-baratan. Toh tuduhan itu tidak menjadikan kita menolak sosok Cak Nur dan pemikiran-pemikirannya.

Lalu benarkah NDP ini tak bisa dipertemukan. Jawabannya, iya, jika masih tetap mempertahankan sikap arogansi intelektual kita, jika semua orang masih merasa terlalu hebat dan pintar untuk menurunkan ego.

Pada dasarnya, perbedaaan antara NDP lama serta NDP baru terletak dalam sistematika penyusunan dan pendekatannya dalam menemukan kebenaran. konten-konten materi teologis (yang terdiri dari bab I hingga bab IV) dalam NDP baru banyak dipengaruhi oleh cara berpikir metafisika islam yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir islam kontemporer, beberapa di antara pemikir-pemikir tersebut seperti Muhammad Baqir Al Shadr dan Mulla Shadra (yang banyak terlihat dalam bagian-bagian teologis NDP baru) serta Ali syariati (yang banyak dijadikan referensi pemikiran dalam aspek sosiologis NDP baru). Karena pentingnya pemahaman metafisika Islam dalam bagian teologis NDP baru, makanya dalam NDP baru ditambahkan bab logika dan kerangka berpikir.

Dalam NDP baru, diajarkan bahwa keyakinan mestilah bersumber dari pengetahuan yang rasional. Karena itu dalam bab-bab awal NDP baru diajarkan bagaimana menemukan kebenaran rasional hingga sampai pada pembuktian kebenaran ajaran Islam. Sedangkan dalam NDP lama sendiri, tidaklah banyak membahas tentang metode rasional dalam membuktikan kebenaran ajaran Islam, tapi hanya menyarikan inti ajaran-ajarannya saja. Sedangkan pada wilayah Antropo-sosiologis (bab V sampai bab VIII), NDP lama tidak banayk berbeda dengan NDP baru.

Menemukan titik temu dalam materi NDP ini sebenarnya bukanlah hal yang sulit jika semua kader mulai dari tingkatan komisariat hingga tingkatan PB mau berniat baik menurunkan ego demi perbaikan HmI ke depan. Perdebatan tentang NDP ini jika dibiarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan perpecahan di internalHmI dan tentu saja yang akan menjadi korban adalah adik-adik di bawah. Bukankah tantangan hari ini semakin berat dan rumit, yang membutuhkan waktu dan tenaga kita? jika kita masih saja terus berdebat di wilayah NDP ini, maka kita akan dilindas oleh perubahan zaman.
baca tulisan ini lebih jauh

Perdebatan tentang NDP; Perdebatan yang Kekanak-kanakan

Dalam dua tahun belakangan ini, ada sebuah hal menarik yang menjadi isu besar dalam dinamika permasalahan internal Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), yaitu perdebatan tentang Nilai Dasar Perjuangan. Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa perdebatan ini dimulai sejak disahkannya NDP baru di kongres HmI ke 26 di Makassar (makanya sering juga disebut sebagai NDP Makassar). Disebut baru, karena NDP ini merupakan pertama kalinya materi-materi NDP yang diajarkan di seluruh Indonesia diubah, sejak NDP ini pertama kali dirumuskan oleh Nurkholish Madjid (Cak Nur) pada tahun 1969. Pasca pengesahan penggunaan NDP baru ini sebagai dasar pengkaderan HmI menggantikan NDP versi Cak Nur (atau sering disebut sebagai NDP lama) rausan cabang yang ada di seluruh Indonesia terbelah dua, antara menggunakan NDP baru versi kongres Makassar dengan yang tetap menggunakan NDP lama.

Perdebatan tentang NDP mana yang digunakan dalam kegiatan-kegaiatan pengkaderan HmI ini berlangsung alot dan berlarut-larut dalam dua tahun belakangan. Mulai dari perdebatan warung kopi ala anak-anak HmI, menjadi bahan diskusi di forum-forum basic training hingga menjadi wacana panas yang bergulir pra-kongres.

Memang perbedaan pandangan dan pendapat dalam tradisi HmI bukanlah hal yang tabu dan janggal, bahkan budaya pluralitas dan perbedaan pandangan ini sendiri merupakan sebuah ciri khas sendiri bagi puluhan tahun pengalaman hidup HMI. Namun saya melihat bahwa ada yang salah dalam perdebatan tentang dualisme NDP di tubuh HmI selama ini. Perdebatan tentang NDP yang saya lihat cenderung mengarah pada perdebatan yang tidak substantif. Mengapa saya katakan tidak substantif, karena argumentasi-argumentasi yang sering muncul dalam perdebatan NDP bukanlah argumentasi yang menjelaskan tentang materi NDP yang berusaha dipertahankan oleh masing-masing pihak, melainkan argumentasi yang berusaha menyerang kelemahan NDP lain. Parahnya, saya melihat ada kecenderungan bahwa yang diserang dari NDP lain itu bukanlah isi NDP nya melainkan proses penyusunan NDP nya.

Coba kita perhatikan, Pihak yang mendukung NDP lama menyerang NDP baru karena proses penyusunannya yang katanya sangat tidak konstitusional, karena legalitas tim 8 sebagai penyusun naskah NDP tidak pernah diakui, Selain itu tim penyusunnya waktu itu dipengaruhi oleh pemikiran tunggal Arianto Ahmad yang disebut-sebaut sebagai pencetus ide NDP baru. Jika anda pernah membaca laporan hasil kerja tim sembilan (tim yang dibentuk oleh Pengurus Besar HmI untuk memverivikasi keabsahan NDP) serta naskah NDP yang dikirim ke seluruh cabang, maka kita bisa melihat bahwa argumentasi diberikan oleh Pengurus Besar (PB) HmI (yang belakangan menyatakan kembali ke NDP lama versi Cak Nur) merupakan penghakiman-penghakiman atas proses penyusunannya.

Di lain pihak, para pendukung NDP baru juga cenderung terjebak dalam perdebatan kekanak-kanakan ini dengan menyerang pemikiran Cak Nur sewaktu penyusunan NDP lama yang katanya banyak dipengaruhi oleh perjalanannya ke Amerika dan Timur Tengah.
Kenyataan ini diperparah dengan sikap tidak dewasa yang turut dipertontonkan oleh kader-kader HmI dalam polemik NDP ini. Sikap arogan dan merasa benar sendiri merupakan hal yang lumrah kita temui dalam perdebatan-perdebatan tentang NDP. Beberapa forum ilmiah yang harusnya bisa menjadi tempat dialog dan mempertemukan pendapat, berakhir tanpa menghasilkan apa-apa karena masing-masing pihak tidak dewasa dalam memandang permasalahan ini. Tokoh-tokoh dan sesepuh HmI yang harusnya bisa menunjukkan sikap dewasa dalam perdebatan ini juga malah ikut-ikutan menunjukkan arogansi intelektualnya, bahkan dalam beberapa hal menunjukkan taqlid buta dan pengagungan berlebihan terhadap Cak Nur.

Harusnya, perdebatan-perdebatan tentang NDP ini tidak dibawa ke perdebatan kusir yang tak kunjung usai melainkan dibawa ke forum-forum yang ilmah. Tapi tentu saja, menyediakan forum ilmiah juga tak akan pernah menyelesaikan masalah jika tak dibarengi dengan kedewasaan kader HmI dalam memandang persoalan ini. Bagi yang mendukung NDP lama versi kongres Makassar, silahkan ajukan rasionalisasi di forum ini secara ilmiah, jangan menutup diri terhadap perubahan, bukankah Cak Nur sendiri pernah bilang bahwa NDP hanyalah tafsiran beliau terhadap ajaran agama Islam yang selalu terbuka untuk dikritik dan diperbaiki. Yang mendukung NDP baru juga silahkan ajukan argumentasi dan berhenti memojokkan Cak Nur. Semua pihak juga harus berupaya persoalan NDP ini tidak dibawa ke ranah-ranah politis. Bagi para senior-senior HmI, juga harus menunjukkan kebijaksanaan dan keluasan cara berpikir, karena arogansi intelektual hanya akan membuat kita ditertawakan. Bukankah selama ini kader-kader HmI selalu mengklaim diri sebagai manusia-manusia intelektual, yang selalu bepikir inklusif dan dinamis?

Terakhir, saya ingin menyitir pendapat salah seorang pengurus PB HmI (saya lupa namanya) terkait dengan dualisme NDP ini. Beliau bilang, Jika kita ingin menyelesaikan masalah NDP ini secara serius, singkirkan NDP Cak Nur, singkirkan NDP Makassar, mari susun NDP baru. Mari melangkah maju, jangan mundur ke belekang.
baca tulisan ini lebih jauh

BAsic Training dan relevansinya dalam kehidupan kita

Saya menulis catatan ini, beberapa jam sebelum pembukaan basic training Himpunan Mahasiswa ISlam (HmI)angkatan ke-80 komisariat kedokteran Unhas, yang akan dibuka sebentar lagi di LAN antang. basic training yang ke-80, sebuah rentang waktu yang begitu panjang tentu saja. Dari sejak basic training diselenggarkan berpuluh-puluh tahun lalu di fakultas kedokteran oleh para generasi fakultas kedokteran Unhas pertama, telah begitu panjang waktu yang telah dilewati, begitu banyak perubahan yang terjadi dan begitu banyak alumni yang telah ditetaskan di forum yang sering juga disebut LK (latihan kader) tingkat I ini.

Tentu saja, di usianya yang telah dewasa( saya berusaha menghibur diri dengan tak menyebutnya tua), ada banyak hal yang telah dilewati dan mengalami perubahan dari penyelenggaraan basic training, mulai dari permasalahan teknis, seperti bagaimana cari dana, bagaimana panjang waktunya, hingga permasalahan konseptual mendasar dalam penyelenggaraan pengkaderan. Namun dari sekian banyak perubahan yang terjadi itu, ada satu pertanyaaan penting yang harusnya kita jawab, yaitu benarkah basic training telah mencapai tujuan mulianya sejak pertama diselenggarakan yaitu membentuk karakter insan cita?

Terlepas dari begitu banyak alumni basic training HmI yang kelak di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh nasional di berbagai bidang kehidupan, mulai dari pengusaha sampai politikus, mulai dari dokter sampai tentara, kita tetap saja harus bertanya, bagaimana relevansi basic training dengan peningkatan kualitas manusia-manusia alumninya, utamanya dalam menghadapi kompleksitas permasalahan masyarakat hari ini.

Hari ini kita hidup di dunia yang semakin kompleks dan rumit untuk dimengerti.
Kemajuan peradaban manusia, dalam berbagai bidang telah membawa kita pada kondisi dunia yang semakin rumit untuk dijelaskan. Perkemabngan kebudayaan kita telah menghasilkan kecenderungan-kecenderungan yang membuat kita tak mampu lagi benar-benar memahami realitas dunia tempat kita hidup dengan menggunakan teori-teori sosial klasik. Itulah sebanya, belakangan ini berkembanglah teori-teori baru yang berusaha menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang semakin sulit dimengerti, semisal teori-teori post strukturalisme, teori-teori postmodernisme dan berbagai pendekatan lain yang berusaha dikembangkan.

Akibat lebih jauh dari semakin kompleks dan rumitnya realitas dunia ini, membuat nilai-nilai norma dan batas-batas kebajikan yang selama ini menjadi tempat kita berpegang dan berpijak sedikit banyaknya perlu disusun kembali. Kadang-kadang, pergeseran nilai dan batas-batas ini menjadikan kita kehilangan arah dan orientasi dalam menjalani kehidupan.

Nah.. harusnya di sinilah peran basic training sebagai tempat kelahiran pemikiran-pemikiran kader HmI. Basic Training tidak hanya menjadi tempat kita merevolusi pemikiran kita dari pemikiran yang primitif ke pemikiran yang lebih baik, tapi juga memberikan pijakan dasar bagi pembangunan paradigma (cara pandang) baru kita dalam melihat realitas dunia, agar di tengah zaman yang multitafsir (bahkan dalam beberapa hal, mengarah ke nihilisme) kita tidak kehilanan arah dan pijakan.

Dalam Basic Training sendiri, sebenarnya yang menjadi intinya adalah nilai dasar perjuangan, atau bisa disingkat NDP (mohon maaf jika analisa ini berasal dari pemikiran saya yang masih dangkal mengenai Basic Training dan nilai dasar pejuangan). Dan NDP sendiri pada hakikatnya mengandung dua hal penting yaitu, dekonstruksi cara berpikir lama dan pembangunan pondasi bagi cara perpikir baru yang lebih rasional. Dekonstruksi cara berpikir lama mengarah pada usaha mengubah cara berpikir kita yang selama ini masih primitif, suka taqlid buta, tidak rasional dan cenderung menjauhi kebenaran. Itu sebabnya di forum basic training, sering ada yang disebut sebagai forum "dialog kebenaran" (sering dipakai di daerah sulawesi) atau "revolusi kesadaran" (sering dipakai di daerah jawa barat dan sumatera) atau istilah-istilah lain yang mengarah pada usaha mengubah cara berpikir kita menjadi lebih rasional, inklusif, dan universal. materi-materi NDP sendiri, yang dibagi ke dalam 8 bab adalah paradigma baru dalam memandang dunia kader HmI. NDP tidak hanya memberikan arahan bagi pencapaian keimanan yang sebenarnya (aspek teologis) namun juga sampai pada pencapaian tanggung jawab kemanusiaan dan tanggung jawab sosial (aspek antropo-sosiologis) manusia.

Pada fungsinya, dalam merekonstruksi dan memberikan arahan bagi cara pandang baru inilah, basic training diharapkan menjadi sebuah langkah awal bagi pembagunan karakter insan cita. Tentu saja, selalu dibutuhkan perbaikan-perbaikan dan adaptasi agar forum-forum baic training tidak hanya menjadi ritual-ritual yang kehilangan makna dan fungsi.

Selamat buat bunga-bunga baru hijau hitam. tumbuhlah. hiduplah seribu tahun lagi, agar wangimu mewarnai jalan-jalan masa depan
baca tulisan ini lebih jauh

Back to Basic


Bagaimana HMI saat ini?, pertanyaan ini sudah menjadi trademark bagi organisasi mahasiswa Islam terbesar ini untuk peran selanjutnya. Siapa yang tidak kenal dengan HMI yang mempunyai kiprah besar terhadap tegaknya bangsa ini. Tapi juga ada tuduhan, bahwa HMI pun turut andil dalam kebobrokan para politisi yang notabene alumni HMI.

Tidak ada kata lain yang bisa dijadikan patokan bagi HMI, kecuali back to basic. Yaitu kembali pada Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang 'bernafaskan Islam' dan bertanggung jawab atas terselenggaranya negara adil makmur yang diridhai Allah SWT. Hanya ini yang harus dijadikan tolok ukur eksistensi HMI. Lain dari itu, tidak ada.


Kalau kata Fachri Ali, dia menyebutkan "Dulu HMI adalah organisasi intelektual yang mencetak kader-kader technocrat dan merupakan idola tiap anak muda terpelajar, serta curiga dengan politisi yang cenderung manipulatif dan bohong melalui kemampuan berpidato. Sedangkan hari ini HMI adalah pencetak para kader politisi yang dulu dicurigai oleh HMI itu sendiri. Saya berkeyakinan 10 tahun kedepan rakyat kian bosan dengan politik, bosan dimanipulasi dan bosan dibohongi. Oleh karenanya 60 tahun HMI kini, jika dia ingin tetap Berjaya, maka mencetak kader-kader intelektual (technocrat) adalah sebuah keharusan, karena bangsa ini akan bersiap melakukan substitusi kepemimpinan politik dengan kepemimpinan technocrat. Membaca dan menulislah, karena itu yang akan membuat anda dewasa secara intelektual." (sumber : http://pbhmi.com). Nah... sekarang, apa yang dimiliki dan yang bisa ditonjolkan oleh si-'Hitam Hijau' ini?.

Mungkin, ini mungkin saja, saat ini telah terjadi degradasi kaderisasi di tubuh HMI sendiri. Entah apa sebabnya. Bisa jadi juga tanggungjawab para rakanda alumninya yang terus menerus meng'kooptasi' adik-adiknya di HMI. Demi kepentingan para rakandanya, adik-adiknya diobok-obok. Dan yang paling penting, bagi HMI-nya sendiri harus mulai sadar bahwa HMI bukan milik alumni, tapi milik anggota. Sehingga maju-mundurnya organisasi ini tergantung bagaimana sikap anggotanya. Jika anggotanya mau di'mainkan' oleh para rakandanya, maka sudah jelas bahwa HMI sedang menggali liang lahatnya sendiri.

HMI adalah HMI, bukan HMI adalah juga Alumni HMI. Paradigma ini jelas berbeda. Karena akan bermuara pada hilangnya sikap independen. Tanpa sikap independen ini, maka tidak ada HMI. Dan menjadi wajar jika kemudian ada pertanyaan 'Bagaimana HMI saat ini?'. Bukan berarti anti kepada Alumni HMI. Akan tetapi bersikap proporsional. Bahwa Alumni HMI merupakan wadah silturrahmi dan komunikasi antar komunitas keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam. Tidak lebih. Apalagi kemudian ada transaksi, deal-deal politis yang bakal berdampak pada proses perbaikan institusi.

HMI akan terbawa-bawa dalam berbagai proses politik yang terjadi. Akan sangat membanggakan jika ternyata proses politik itu membawa dampak positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi sebaliknya, institusi HMI akan terbawa buruk dan rusak karena tingkah laku para alumninya yang tidak patut dan tidak layak, apalagi bagi para alumninya yang terlibat unsur-unsur KKN. Jelas-jelas ini merusak dan menghancurkan. Bukan saja HMI tapi juga bangsa dan negara secara keseluruhan.

Oleh karenanya, dengan ucapan bismillah...HMI harus back to basic. Yakin Usaha Sampai.
baca tulisan ini lebih jauh

rekonstruksi ideologi dalam NDP Cak Nur

Tulisan dari mas Andito. patut untuk dibaca dan didiskusikan

HANYA dengan Al-Quran dan terjemahnya kita sudah dapat memakai dan ‘memelintir’ ayat-ayat suci dengan bebasnya. Masalah kemampuan bahasa arab, asbab al-nuzul dan tetek bengek lainnya ‘tidak dipentingkan’. Memang lazimnya demikian. Toh, semuanya akan berpusing-pusing pada tafsir. Itu bahasa sadisnya saat kita berhadapan dengan majlis pengajian pada umumnya.

Praktik tadi sungguh berbeda saat kita berhadapan dengan naskah Nilai-nilai Dasar Perjuangan/Nilai Identitas Kader (selanjutnya ditulis NDP), sebuah rumusan Islam yang khas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada 5 Februari 1947. Naskah NDP itu sendiri baru disahkan pada Kongres HMI IX di Malang (Mei 1969).

Untuk memahami, apalagi mengajarkan, NDP kita harus menjalani praktik-praktik ritual tertentu yang tidak sembarang orang dapat melakukannya, mulai dari Basic Training (Latihan Kader I/LK I), pendalaman NDP Pasca LK, Training Up Grading NDP, Senior Course sampai Training Instruktur NDP. Kita juga tidak boleh meninggalkan wirid intensif dengan membaca karya-karya Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Pembalseman Cak Nur

Mengapa hal ini dapat terjadi? Banyak alasan dapat dikemukakan. Pertama, Pembalseman Cak Nur secara sistematis. Pengaguman terhadap Cak Nur membuat semua orang merasa rendah diri ketika berhadapan dengan pemikiran-pemikirannya. Penjara imajinasi ini mengkondisikan Cak Nur laksana Tuhan bagi agama HMI. Ia bersabda di puncak gunung dan umat di bawahnya cuma mengaminkannya. Fobia kritik dijadikan alasan utama melarang dan menghakimi orang agar berbuat hal yang sama sebagaimana dirinya.

Padahal, NDP bukan tafsir kitab suci, juga bukan kumpulan hadis. Orang lupa, Cak Nur yang membuat draft NDP di periode 69-an berbeda dengan Cak Nur millenium baik dari sisi usia, intelektualitas, pengalaman dan lain-lain. NDP merupakan sebuah cara pandang Islam ala Cak Nur muda, yang ekstremnya, belum tentu benar. Repotnya, kader HMI sulit memahami evolusi pemikiran seseorang yang dapat berubah seiring waktu, kontemplasi, dan kedewasaan. Adalah hal biasa pemikiran masa lalu tidak lagi sesuai dengan pemikiran masa kini. Tidak ada alasan untuk takut mengkritik Cak Nur muda.

Mengkritisi NDP tidak ada hubungannya sama sekali dengan penghormatan kepada Cak Nur. Cak Nur tetap kita hormati dan terhormat dengan sendirinya ketika pemikiran-pemikirannya turut memperkaya khazanah pemikiran Islam Indonesia. Cak Nur adalah sedikit tokoh yang pemikiran brilyannya didengar betul oleh paling tidak 4 presiden mulai dari Suharto sampai Gus Dur.

Bias Figur dalam Kerja Kolektif

Kedua, bias personalisasi dalam realitas kolektif. Sesungguhnya perumusan NDP dihasilkan dari kerja kolektif, bukan individual. Beberapa bagian NDP jelas dikerjakan oleh kader muda HMI lainnya, seperti Endang Saefuddin Anshari, Saqib Mahmud, M Dawam Rahardjo dan yang lain. Bukan tidak mungkin terjadi benturan ide dan paradigma satu sama lain. Penguapan konsistensi ideologi dapat berbanding lurus pada wilayah ini.

Ketiga, pada saat itu, arus pemikiran keislaman disemarakkan oleh pertentangan yurisprudensi simbolis antara berbagai organisasi Islam tradisional dan modernis; di sisi lain, terbatasnya wacana keislaman alternatif dan referensi —ditandai dengan sangat minimalnya peredaran buku-buku pemikiran keislaman berbahasa Indonesia— turut memainkan peranan yang tidak sedikit pada gaya bahasa, kedalaman bahasan dan kelengkapan tema NDP. Apalagi saat itu HMI sedang berada pada dua arus besar konflik politis-ideologis, dengan CGMI, dan rezim transisional dari Orla ke Orba.

Dengan seluruh fenomena di atas, wacana-wacana keagamaan alternatif —yang mungkin bukan sesuatu yang “luar biasa” di masa kini— seperti mendapat momentum. Pemikiran-pemikiran radikal, Ahmad Wahib misalnya, menjadi sesuatu yang wah diperhadapkan dengan pemikiran keislaman konvensional saat itu.

Pada posisi inilah kita dapat mencoba memahami mengapa dalam suatu kurun waktu yang panjang, NDP menjadi sesuatu yang khas dan sulit untuk dikoreksi. Keterjagaan momentum ini, secara alamiah, terus “dilestarikan” dengan semakin gemilangnya tokoh-tokoh perumus NDP dalam konstelasi pemikiran sosial keagamaan di Indonesia. Hal berbeda mungkin akan kita temukan seandainya para perumus NDP berevolusi sebagai orang-orang kebanyakan sehingga tidak populer.

Akhirnya, kita juga paham mengapa banyak kader tidak memahami naskah NDP, meskipun membaca berulang kali. Ketidakmengertian dinisbahkan pada kebekuan intelektual mereka dan bukan pada naskahnya. Setiap kali selesai membaca yang berakhir dengan kebingungan, setiap kali itu pula kader seakan berkata bahwa ia ternyata begitu bodoh. Dan masih saja bodoh meskipun telah membaca referensi-referensi lainnya.

Pengapuran Intelektualisme

Keempat, pengapuran intelektualisme, akibat semakin menggejalanya wacana politis praktis ketimbang intelektualisme. HMI yang menang perang bharatayudha melawan PKI/CGMI dan anasir Orla lainnya seperti ketiban pulung. Gelombang besar mahasiswa yang mendaftar sebagai kader HMI baru pasca Orla ternyata tidak berdampak signifikan pada pembaruan dan pematangan teologis. Memang format dan materi perkaderan senantiasa terus berkembang, tapi semua itu tidak dibarengi dengan peninjauan ulang seluruh nilai yang menjadi landasan ideologis HMI.

Perkembangan struktural konstelasi politik dan kesibukan lainnya membuat kader-alumni HMI boleh dikata tidak dapat lagi mencurahkan sedikit perhatian kepada materi-materi utama perkaderan yang mendasar. Bahkan fenomena bombastis di atas dijadikan salah satu alasan untuk tidak menoreh tinta merah pada materi ideologi. Apalagi yang harus diutak-atik, kalau dengan keadaan sekarang saja HMI sudah dapat besar, kader-kadernya banyak yang sudah jadi orang dan menjadi motor di banyak wilayah strategis?

Alih-alih memperbarui, keberadaan NDP diperkokoh dengan polesan dalil-dalil ayat suci sebagai lampiran untuk mencuatkan dimensi keagamaan naskah tersebut. Kongres diadakan sebagai legitimasi naskah. Padahal, perangkat hukum yang menopang bagi kemungkinan diadakannnya sebuah rekonstruksi naskah ideologi sudah cukup memadai.

Lengkaplah sudah mistifikasi NDP. Ia merupakan naskah suci, sakral sehingga anti kritik. Padahal, sakralisasi pada segala sesuatu selain Allah adalah praktik kemusyrikan.

Mengawali Rekonstruksi

Sebagai nilai dasar perjuangan, NDP membutuhkan unsur-unsur penyempurna bagi tumbuhnya sebuah ideologi/paradigma/filsafat hidup/pandangan dunia: Sistematika yang jelas dalam penalaran rasional (filosofis), kemudahan aplikasi teori praktis (sosiologis), efek perubahan individu dan masyarakat.

Penguatan dimensi kemanusiaan yang ada di NDP jelas membawa dampak signifikan. Di satu sisi ia membawa dengan genial pesan-pesan peradaban, agar kader HMI tidak gamang dan takut menghadapi perubahan zaman. Di sisi lain, materi NDP menjauh dari pendekatan filosofis, sesuatu yang selayaknya menjadi titik sentral ideologi. Pendekatan sosiologis membuat Islam ditampilkan sebagai ‘Kehadiran’ yang mendahului ‘Kebenaran’, dasar teologi Kristen, bukan ‘Kebenaran’ mendahului ‘Kehadiran’.

Aspek filosofis di NDP, kalaulah ada, juga berputar-putar pada paradigma Calvinian. Kerancuan aspek filosofis dan sosiologis ketika berhadapan dengan teologi membuat kader semakin percaya bahwa tiada keterkaitan sama sekali antara ruang publik (rasionalisme) dan ruang privat (keimanan). Alih-alih mewartakan kebenaran Islam, pemberian materi NDP menggiring kader pada paradigma Kristen (pada Bab Ketuhanan, Bab Kemanusiaan dan Bab Ilmu Pengetahuan) dan Marxian (pada Bab Individu-Masyarakat dan Bab Keadilan Sosial Ekonomi).

Kesenjangan inilah yang menyebabkan mengapa instruktur NDP cenderung berbeda visi dan pemahaman satu sama lain. Ketidakmampuan memahami konteks historis yang melatarbelakangi perumusan NDP; ketidakmampuan memahami paradigma yang dipakai para perumus; ketidaktahuan batasan liberalisasi NDP; kurangnya referensi perbandingan dalam memahami NDP; dan kurangnya ilmu alat yang dimiliki pemateri NDP dapat dijadikan kambing hitam susulan.

Efeknya, sebagian pemateri NDP, terutama pada LK I, membawa materi seperti pengajian yang monolitik dan dogmatik. Alih-alih menggiring kader menuju kesadaran teologis, instruktur malah membuat kader terhalusinasi pada ghirah kebablasan.

Pemateri NDP cenderung membawa materi dengan paradigmanya masing-masing. Cak Nur difitnah untuk membenarkan keyakinan pemateri. Perlu dicurigai bahwa banyak pemateri yang belum bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur dan studi banding dengan referensi lain yang berhubungan. Di sisi lain, studi kritis NDP dimentahkan oleh alasan bahwa segala penjelasan tentang nasklah ideologi tahun 1969 telah ada di buku-buku Cak Nur yang baru beredar tahun 1990an. Ini tidak logis. Tiada relevansi apa pun antara buku Cak Nur dengan NDP qua NDP.

Nampaknya banyak pihak yang tidak bisa membedakan dengan jernih antara rekonstruksi dan dekonstruksi. Sedari awal tulisan ini hanyalah kritik terhadap pondasi bangunan NDP Cak Nur yang lebih nampak sebagai ‘Natsir Muda’. Namun penulis tetap yakin bahwa nilai-nilai pengubah/perbaikannya masih dapat dilihat pada evolusi pemikiran Cak Nur setelah ia semakin kosmopolit dan universal.

Pada tingkat struktural, bias ideologi berkembang semakin kompleks ketika organisasi dituntut agar memberikan kejelasan arah kaderisasi. Pada satu aspek HMI telah berhasil membentuk kader yang mempunyai karakter ideologis tertentu. Namun pada aspek lain, sebagaimana telah diterangkan di atas, HMI boleh dikata telah gagal membentuk format keislaman yang utuh.

Menjawab keparsialan NDP, instruktur yang mempunyai dalil kuat untuk menolak isi materi NDP Cak Nur bermain dengan kerangkanya sendiri. Pada aspek dinamika intelektual, ia layak diacungi jempol karena mampu membuat sebuah konsep alternatif. Pada aspek struktural, ia dikategorikan menyimpang dari kurikulum baku dan melanggar aturan main organisasi. Apalagi yang ‘didekonstruksi’ adalah materi ideologi.

Menyusun Agenda Rekonstruksi
Niat awal yang melandasi pembuatan rekonstruksi ini adalah bagaimana kita melihat wacana perubahan dalam menatap (naskah) ideologi. Biarkanlah semua pihak menimbang NDP dengan sudut pandangnya masing-masing. Toh semuanya akan dinilai secara objektif lagi proporsional untuk mencari yang terbaik. Dari mana pun datangnya hikmah itu. Yang penting, tidak boleh ada satu pun wilayah yang bebas kritik. Namun hendaknya perlu diingat bahwa sebuah rumusan ideologi senantiasa berisi konsep-konsep umum, bukan semacam juklak atau juknis.

Sudah barang tentu setiap draft tidak boleh disebut sempurna. Masih banyak hal yang perlu dikoreksi, diperjelas dan disempurnakan. Masih banyak tema dan bahasan yang perlu ditambah. Draft rekonstruksi ini juga tidak menafikan keberadaan draft lain yang dibuat oleh perorangan dan/atau institusi lain. Semakin banyak konseptor akan semakin baik. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila ada pihak yang menganggap rekonstruksi diarahkan atau dimonopoli oleh seseorang/kelompok tertentu.

Satu hal lain yang perlu dicermati adalah keberadaan senior/instruktur ideologi di daerah masing-masing. Lepas dari kadar keilmuan masing-masing, menurut penulis, mereka layak dikunjungi untuk dimintakan urun rembuknya. Biar bagaimana pun, mereka punya kontribusi tak ternilai bagi perkaderan HMI secara nasional.

Dengan iklim politis HMI yang kental, keterlibatan mereka akan menguatkan rekonstruksi secara konseptual dan faktual, sehingga tidak akan ada ungkapan sinis kepada perekonstruksi, “Anak kemarin mau menandingi Cak Nur?” tentu kita sudah tahu kesalahan logika dari ungkapan melankolis tersebut. Namun dalam ‘dunia politik’ HMI, ketidaksetujuan sebagian kalangan bisa menjadi duri. Alih-alih bicara ideologi, praktiknya adalah saling jegal setiap ide baru. Bukan rahasia, banyak pihak yang tidak setuju atas ide rekonstruksi NDP hanya karena dirinya tidak merasa dilibatkan dalam perumusannya.

Membentuk Tim

Sebuah usulan konseptual cenderung mudah diterima ketika hadir sebagai sebuah kebutuhan kolektif dalam suasana yang kondusif. Pada kondisi yang tidak tepat sebuah tawaran alternatif dari segelintir individu dan/atau institusi, misalnya menjelang suksesi, dapat didramatisasi-dipolitisasi-dinilai secara a priori.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebuah tim yang mengakomodasi seluruh perumus dari level komisariat hingga PB perlu dibentuk. Rumusan-rumusan yang terseleksi secara konseptual ini (seleksi I) sebaiknya diuji coba dalam sebuah pilot project yang akan dievaluasi dalam forum khusus (seleksi II) dan diuji kembali (seleksi III). Setelah konsep ini utuh, draft rekonstruksi NDP dapat diajukan dalam Kongres mendatang.

Dengan demikian, gerakan rekonstruksi NDP dapat dilakukan dengan gerakan kultural dan struktural. Pada satu sisi kita mengikuti ketentuan dan hierarki organisasi dengan keputusan akhir tetap di Kongres. Di sisi lain penguatan basis (komisariat/korkom/cabang) tetap dilakukan. Tanpa basa-basi birokrasi, internalisasi NDP dapat dilakukan sedini mungkin. Praktik ini secara alamiah pula dapat dianggap sebagai proses pembentukan Lembaga Pengelola Latihan (LPL) di setiap insitusi cabang, kalau memang belum ada.

Pasca rekonstruksi ideologi, kita perlu juga memikirkan rekonstruksi perkaderan mengingat perubahan materi berimplikasi signifikan pada pembumian materi. NDP yang selama ini diformat dalam satu naskah dapat dikembangkan menjadi tiga naskah dengan titik fokus dan berat yang berbeda mengikuti tingkatan perkaderan formal: basic (LK I), intermediate (LK II) dan advance (LK III).

Merangkai Mimpi

Itu harapan idealnya. Jangan berharap banyak bahwa pada akhir pelaksanaan rekonstruksi berikut segala pelatihan percontohannya akan menghasilkan kader-kader yang menjadi pemikir tercerahkan (rausyan fikr). Eksplorasi wacana ini bukanlah indoktrinasi mekanis seperti yang dilakukan banyak harakah, yang mengalami split personality, menuhankan dirinya karena bingung membedakan pendapatnya dengan ayat-ayat Tuhan yang ditentengnya ke sana ke mari. Juga bukan seperti kebanyakan aktivis rasialis himpunan mahasiswa yang mengalami post-power syndrome, menganggap kebenaran hanya datang dari duli senior.

Pada dirinya sendiri, NDP bukanlah himpunan peraturan operasional yang menawarkan tindakan praktis. Tidak seperti materi-materi informatif lainnya, materi NDP kering dan abstrak sehingga tidak menarik minat banyak kader untuk mengkajinya. Dengan demikian, adalah hal wajar kalau hanya ada segelintir orang yang berhasil tersaring, syukur-syukur menjadi pemateri, dari ramaian peserta kajian atau pelatihan.

Setelah seluruh aktivitas rekonstruksi ini berjalan, boleh kita bermimpi tentang terbentuknya kader yang dapat menggabungkan pengetahuan tradisional dan modern; yang menghimpun nilai-nilai kebijakan secara harmonis. Kader seperti ini tiada pernah meninggalkan dan melupakan dimensi transenden; mempunyai pemahaman yang integral seputar diri/manusia-alam-Tuhan; tidak mudah terseret pada paradigma politis, serta tidak mudah terhegemoni oleh negara. Boleh kita mengharap kader yang menjadi cahaya, yang terang dengan sendirinya dan menerangi segala sesuatu di luar dirinya. Rekonstruksi ideologi adalah sebuah tindakan wajar sebuah organisasi kader ketika ingin mereposisi diri pada dunia yang terus berubah. [andito]
baca tulisan ini lebih jauh

hidup di dunia yang bias

pernahkah anda berpikir, knapa si slamet tukang ojek itu
begitu miskinnya sampai membeli kolorpun ia harus berjuang
mengayuh sepeda berkilo kilo? mengapa keluarga pak mustafa
begitu kaya sampai untuk merayakan ulang tahun anaknya
yang masih tk, mereka rame-rame ke disneyland?

anda boleh bilang, slamet pemalas, kurang pendidikan kurang
kreativitas, kurang gaul. lihat bacaannya, lembaran bergambar
pos kota. omongannya medok, isinya melulu mengenai anak bini.
mainannya gaple bukan internet. jadi kalo slamet miskin, emang
itu sudah takdirnya untuk miskin. orang macam dia gak punya
jalan untuk sukses, iya gak? sedang pak mustafa bagi tetangga
dianggap keluarga elit berpendidikan tinggi (prof, ir, doktor
mustafa m.a, msd, whatever ..). liat tamu yang berdatangan ke
rumahnya, berjejer seperti antrian beras gratis. pak mustafa
kemana mana pake jas dan dasi mirip menteri. anak yang kedua
les piano, musik klasiknya memantul dari ruang tamu memerangi
dangdut yang sedang dinikmati para tukang becak yang mangkal
di perepatan jalan dekat rumahnya. sampai mereka akhirnya
komplen "itu musik ngak ngek ngok apa enaknya sih? bikin pala
pusing dan ngantuk aja, dasar wong edan"

manusia memang mahluk yang gampang dikemudikan bias. mayoritas
kita jelas lebih hormat terhadap pak mustafa ketimbang slamet.
sebab selain mustafa terkenal sering nyumbang acara tujuh belas
agustusan di kelurahan, dia dekat dengan pak lurah dan camat.
bahkan gubernur adalah teman dekatnya. jadi tidak heran ketika
dia meninggal, rombongan pengantar memacetkan jalan. mesjid yang
sesak oleh manusia wangi setelah sholat jenazah, mendengarkan
khutbah penceramah yang mengiringi jenazah mustafa dengan memoar
"dia adalah manusia yang dicintai banyak orang, dia dermawan dan
santun terhadap si miskin. manusia macam mustafa cuma di surga"
sedang ketika slamet mati ketika ojeknya tersambar metromini,
cuma 10 orang datang berduka di tempat kostnya. 3 orang adalah
bini dan 2 anaknya sendiri. 5 orang teman seprofesi dan 2 orang
pemilik warteg yang dua kali berduka, satu karena slamet telah
mati, kedua, slamet pergi beserta bon utang utang tak kembali.

tidak, kawan. saya tak akan membiarkan tulisan ini semacam
wejangan seolah olah saya adalah manusia arif pembela tertindas.
sebab bila saya berada dikampung anda itu, saya akan berprilaku
sama dengan manusia lainnya. saya akan datang kepenguburan pak
mustafa, sebab selain meriah, makanan gratis juga disediakan,
apalagi banyak cewek cantik dan artis yang bakalan datang.
ya, anda dan saya kena bias karena hidup itu sendiri sebenarnya
adalah bias. diskriminasi opini dan treatment sudah dialami sejak
kecil. di sd saya di pejompongan, arif selalu dimanja para guru
karena bapaknya anggota dpr. dan katma dicuekin karena bayar spp
saja masih minta dispensasi. di smp, pak arif, guru olah raga
selalu memanjakan desy, nina dan murid sexy dan bahenol lainnya.
tapi pada suryani yang gendut, martinah yang pendek dekil, guru
ganjen satu ini jarang menoleh. seolah mereka tidak exist.

mengapa itu terjadi? jangan tanya saya, sebab bukanlah sufi.
tapi yang jelas saya memang tahu bahwa manusia itu butuh simbol.
mahluk homosapien sejak pertama kali mengenal property dan harga
diri di padang savanah di afrika sana dulu sampai sekarang ini
tidak pernah berhenti untuk minta dihargai dan di hormati.
dulu dengan power mereka jadi kepala suku dan raja. sekarang
dengan power, mereka menjadi pengusaha atau kepala negara. yang
kurang power, mengumpulkan harta dan menaruh titel di depan dan
belakang nama. yang elit berpakaian mahal dan selalu ngobrol pake
bahasa kelas tinggi. lawyer menggantung diploma di ruang kerja.
militer berseragam atribut, lalu lalang bagai yang punya negara.

semua simbol adalah intimidasi, dan inilah yang melahirkan bias.
bila anda seorang petani kampung yang tanahnya baru saja dirampas
oleh konglomerasi tamak. trus anda coba melaporkannya pada wakil
anda di dpr, pertama anda harus lapor pada penjaga diluar gerbang.
kedua anda menunggu sekian jam di ruangan ac dingin dan memiliki
hiasan garuda besar di dinding, dan akhirnya ketika berhasil juga
menemui orang satu ini (sebuah keajaiban) anda melihat manusia
wakil rakyat berjas mahal dan wangi. bicara dgn bahasa yg susah
dimengerti, tiba-tiba anda merasa dia begitu pintar dan anda jadi
begitu goblok. inilah intimidasi, disinilah bias biasanya muncul.

kembali, kenapa slamet penguburannya sepi? karena dia miskin,
tidak berpendidikan dan tidak wangi. jadinya tidak dicintai.
kenapa mustafa dicintai? karena dia pintar, wangi, kaya, banyak
teman dan banyak berderma.
kenapa? kenapa? karena opini selama ini dipengaruhi oleh simbol
yang sesungguhnya tidak mewakili apa-apa. pidato kepresidenan di
tv, ceramah kyai, gelar bangsawan raja, titel haji dan di depan
nama anda yang bisa dibeli/dijual untuk usaha lantaran bapak anda
adalah jendral atau menteri. mobil mewah yang dikendarai, merek,
semuanya adalah alat intimidasi. dan semuanya alat bias.
so, siapa sih manusia yang tidak bermain di padang bias?
ada, yaitu para sufi, orang gila atau orang yang sedang sekarat.
selain dari itu, kita semua adalah para fauna yang sering merasa
arif bijaksana, tapi tak segan menyemplungkan diri pada kubangan
bias dan intimidasi sambil merayakannya sepenuh hati .... (*)

[copyright © 1999 by artikel hasan basri™]
baca tulisan ini lebih jauh

jangan menyerah!!!

Beberapa minggu belakangan ini kita banyak disajikan tayangan-tayangan perhelatan piala eropa (euro 2008). Menarik, melihat 16 negara bertarung, sama-sama menampilkan permainan terbaik mereka. yah, walaupun agak keder juga membayangkan kapan ya timnas kita bisa menampilkan permainan seperti itu. Tapi biarlah, setidaknya kita bisa melihat pertandingan sepakbola yang benar-benar "sepakbola". Nggak seperti yang ditampilkan klub-klub di indonesia saat ini, bukannya sepakbola, malah sepak wasit, sepak pemain lain.
Ya sudahlah, mari kita melihat pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan para orkestra-orkestra lapangan hijau itu di panggung euro 2008. Banyak partai-partai menarik, partai-partai menegangkan, dan sekaligus menghibur. Kita telah melihat bagaimana portugal yang begitu perkasa di babak penyisihan dihancurkan "der panzer" jerman. Perancis yang difaforitkan sebagai calon kuat jawara eropa justru tampil melempem dan gagal menembus babak penyisihan. Dan yang paling mencengangkan dan patut disimak baik-baik adalah partai "Kroasia vs Turki".

Mungkin bukan cuma saya yang terperanjat melihat hasil partai ini. Jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan ini terperanjat melihat anak-anak asuhan Fatih Terim tampil luar biasa. Bagaimana tidak, setelah bermain imbang di sembilan puluh menit normal, mereka kecolongan oleh gol Ivan Klasnic dimenit ke 119! satu menit lagi babak perpanjangan waktu akan selesai, tapi mereka tidak menyerah. Tepat beberapa detik sebelum wasit meniup peluit akhir, Semih Senturk berhasil mengirim bola ke pojok gawang Kroasia yang tak bisa dijangkau kiper Kroasia, Pletikosa. Gooooll!
Pertandingan terpaksa dilanjutkan dengan drama adu penalti yang dimenangkan oleh Tim Bulan Sabit itu dengan skor 3-1.
Apa yang membuat Turki berhasil bangkit dari ketinggalan danmemenangkan pertandingan? Ya, semangat pantang menyerah! Pantang pasrah sampai peluit terakhir berbunyi-lah yang membuat Turki bisa memenangkan pertandingan. ketinggalan satu gol, sementara waktu tersisa sekian detik tidak mebuat mental pemain-pemain Turki ambruk. Sebaliknya, mereka malah makin bersemangat dan berhasil mencetak gol balasan.
Carut-marutnya kehidupan kita hari ini, nilai akademik yang kacau-balau, belum lagi persoalan-persoalan bangsa kita saat ini terkadang membuat kita berpikir untuk menyerah saja. seringkali kita merasa bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kehidupan kita. Yang paling parah adalah ketika kita bersikap pasrah dan "melempar tanggung jawab" dengan berujar "serahkan saja pada Tuhan".
Kita seharusnya berkaca dari kesebelasan Turki. Sebelas pemain yang tampil di lapangan, mulai dari kiper sampai striker benar-benar tak kenal kata menyerah! Para pendukung Turki boleh saja terdiam lesu dan lawan tambah bersemangat, tapi mereka tetap konsentrasi pada pertandingan.
Ketika semua orang di sekitar kita tidak lagi mendukung dan telah menyerah, kita harus tetap fight. Kita boleh saja tyerjatuh dan tertinggal di belakang , but The show must go on bro! Waktu tak pernah berhenti dan hidup akan terus berlanjut. Ketika anda menyerah dan berhenti anda akan dilindas!
baca tulisan ini lebih jauh